Kado ‘Salah Warna’ yang Mengalahkan Logika Riset Pasar

Saya membelikan tumbler gendut shocking colors untuk istri saya, warna yang dia benci dan bentuk yang tidak pernah dia bayangkan akan ada di mejanya. Saya tahu itu, dan saya tetap beli. Dua bulan kemudian tumbler itu masih dipakai setiap hari, dan kami malah beli lagi untuk anak. Bukan karena produknya sempurna, tapi karena momen itu menciptakan kehangatan yang lahir dari pilihan yang terasa salah tapi ternyata benar😍

Inilah yang tidak pernah masuk dalam riset pasar konvensional. Merek F&B berlomba membangun persona dan segmentasi demografis, hasilnya selalu sama: produk untuk orang yang sudah siap membeli, bukan untuk momen yang tidak pernah mereka bayangkan. Padahal empat orang dengan demografi identik bisa punya job yang sepenuhnya berbeda, bertahan di KRL, konten Instagram, sinyal produktivitas, atau seperti saya, hadiah spontan untuk istri. Demografi memberitahu siapa yang membeli, Jobs To Be Done memberitahu mengapa✨

Gifting berbeda secara struktural. Dalam self-use, filternya tunggal: apakah saya suka ini? Dalam gifting, filternya ganda: apakah ini menciptakan momen yang dikenang? Istri saya menolak di level visceral karena warnanya gonjreng, menerima di level behavioral karena anti-bocor, dan loyal di level reflective karena tumbler itu mengingatkannya pada suami yang nekat membelikannya. Makna relasional mengalahkan ketidaksukaan pada warna, dan kenangan itu tidak bisa dicabut.🙌

Satu transaksi gifting menghasilkan tiga loyalis tanpa biaya iklan: pemberi, penerima, lalu anak yang ingin ikut punya. Kopi Kenangan mendapat semua ini secara gratis, padahal pembeli bersedia membayar premium lebih tinggi untuk gifting service yang difasilitasi dengan baik. Berhentilah mendesain hanya untuk daily drinker. Rancanglah untuk kejutan, untuk tawa, dan untuk keluarga❤️

MBG Versi Vietnam: Ibu Memasak. MBG Versi Indonesia: Negara Memasak. Di mana perlu dibenahi?

MBG Versi Vietnam: Ibu Memasak. MBG Versi Indonesia: Negara Memasak. Di mana perlu dibenahi?

Besarnyaa program MBG ini, dia membangun 27 ribu SPPG dalam 16 bulan. Menjangkau 82 juta anak. Mengelola Rp335 triliun. Skala dan kecepatan ini pencapaian kelembagaan yang nyata. Tapi setiap kali saya merenungkannya, saya teringat cerita di Vietnam tiga dekade lalu.

Vietnam tidak pernah punya program seperti MBG. Anggaran lebih kecil, tidak ada puluhan ribu dapur sentral. Tapi mereka menurunkan stunting balitanya dari 36% ke 19% sepanjang tiga dekade. Pada 1990, dua peneliti Save the Children tiba di empat desa Vietnam dengan tugas yang tampak mustahil, kurangi malnutrisi dalam enam bulan. Mereka justru bertanya: di tengah kemiskinan yang sama, mengapa beberapa anak tumbuh sehat? Jawabannya: ibu-ibu menambah udang sawah, sayuran liar, dan memberi makan lebih sering. Praktik biasa, baru dilembagakan setelah ditemukan.

Vietnam menunjukkan satu hal yang luput: stunting biologis ditentukan pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan. MBG menjangkau anak usia sekolah, yang sudah melewati window kritis. Literatur ilmiah konsisten: school feeding paling berdampak pada kehadiran sekolah dan kesejahteraan keluarga, bukan pada stunting. Brazil menempuh jalur berbeda, UU 2009 mengikat 30% pengadaan dari pertanian keluarga, bertahan lintas empat presiden karena ratusan ribu petani sudah punya kontrak.

Skala MBG sudah ada. Yang masih bisa diperkuat: undang-undang yang mengikat, mandat pengadaan dari pertanian keluarga, akuntabilitas komunitas yang melembaga, dan dukungan caregiver di rumah. MBG bisa jadi infrastruktur publik yang transformatif , ketika dipahami sebagai program food security, stimulus ekonomi koperasi tani, dan platform engagement caregiver, bukan semata mesin penurun stunting. Pelajaran terbesar dari Vietnam bukan formula yang ditiru, tapi disiplin untuk terus belajar dan menyesuaikan arah. Indonesia sudah punya skala, tinggal menemukan substansinya✍️

Warisan Terbesar Habibie Bukanlah N-250, Melainkan Manusianya

Sering kali saya terbang ke pulau-pulau terluar Negeri ini dengan turboprop kecil. Deru baling-balingnya memanggil ingatan ke masa kecil. Sebab di era 90-an saya selalu terpapar mimpi besar Habibie, bahkan berulang kali mengunjungi IPTN di Bandung dan mengagumi karya-karya berteknologi sangat canggih ketika itu.

Di sana ada N-250. Turboprop pertama di dunia yang dikendalikan penuh secara fly-by-wire, teknologi yang waktu itu cuma ada di pesawat tempur dan jet besar. Buat anak muda yang jatuh cinta pada teknologi, itu memabukkan.

Butuh waktu lama buat saya paham bahwa yang dibangun Habibie sebetulnya bukan pesawat. Pesawat cuma wahana. Yang dia bangun adalah manusia. Ribuan anak bangsa dikirim belajar ke luar negeri, lalu ditempa langsung di hanggar, pada proyek berstandar tertinggi. Pesawatnya itu kelas, dan para insinyur muda itu muridnya.

Lalu krisis 1998 datang. Pendanaan disetop, IPTN runtuh, mimpi besar itu seperti patah di udara. Banyak yang menyebutnya kegagalan. Dan secara bisnis, memang iya.
Tapi ada yang tidak ikut runtuh. Orang-orangnya. Mereka pindah ke Boeing, ke Airbus, ke Embraer. Kapabilitas yang terbentuk tak bisa dimusnahkan krisis. Ironinya, yang kita anggap kegagalan justru jadi keuntungan buat industri pesawat dunia.

Saya belajar dua hal. Pertama, manusia adalah aset yang paling tahan guncangan. Mesin bisa rusak, institusi bisa bubar, tapi kapabilitas yang menempel pada manusia tetap hidup.

Kedua, dan ini yang pahit, membangun manusia hebat saja tidak cukup. Kalau tidak dibarengi ketahanan agar mereka tetap berkarya di rumah sendiri, kita cuma jadi tempat persemaian, dan orang lain yang memanen.

Hari ini ekonomi terasa berat lagi, dan bakat terbaik kembali melirik ke luar. Apakah kita sedang mengulang 1998? Maka bangunlah manusia, karena merekalah yang bertahan saat yang lain runtuh. Tapi bangun juga rumah yang cukup kuat untuk menahan mereka.

Kini, tiap turboprop yang saya tumpangi mendarat di pulau terpencil, saya teringat semua itu. Terima kasih, Pak Habibie

.

Membedah Ekosistem Dakwah yang Mandiri: Catatan Seorang Periset Sekaligus Penerima Manfaat

Saya menulis ini bukan sebagai pengamat dari jauh, tapi sebagai orang yang ikut menjalaninya. Saya dan keluarga termasuk penerima manfaat ekosistem dakwah Ustadz @muhammadnuzuldzikri. Kami ikut kajiannya, menontonnya di YouTube, Safar, QurbanPlus, memakai apparel-nya, belajar tahsin gratis di HITS, membaca buku-bukunya, membelikan buku buat anak-anak, sampai ikut Half Deen. Semua itu ikut menguatkan perjalanan kami sekeluarga buat terus berbenah. Jadi saya mau jujur: saya bukan pengamat netral.

Hanya saja, karena pekerjaan saya meneliti ekosistem inovasi, saya tak bisa berhenti di rasa syukur. Saya penasaran, kenapa ekosistem ini makin terasa dekat dan makin terasa manfaatnya.

Yang pertama saya catat: dakwahnya menyebar luas, tapi tak menggantung pada sokongan luar. Ia membiayai dirinya sendiri. Pusatnya tetap ilmu. Kajiannya gratis, terbuka buat siapa saja, dan dari sana tumbuh yang lain: pembinaan keluarga, pendidikan anak, literasi Qur’an, layanan ibadah, sampai kegiatan sosial. Satu keluarga bisa didampingi dari urusan anak sampai ibadah; saya mengalaminya sendiri.

Yang paling menarik justru cara ia tumbuh. Orang datang, lalu mendapati manfaatnya: ilmunya nambah, hatinya tenang, keluarganya tertata. Lama-lama tumbuh kecintaan, dan yang sudah cinta jarang bisa diam. Yang tadinya cuma menyimak, ikut mengajak. Yang pernah dibantu, gantian membantu. Yang dulu dapat beasiswa belajar Qur’an, beberapa tahun kemudian giliran mengajar. Pintunya pun tak cuma buat yang berpunya; yang sederhana juga kebagian tempat.

Di sini POV periset saya jalan. Kekuatannya justru karena ia tak bergantung pada satu orang; semangatnya sudah pindah ke banyak orang. Penyebarannya dari mulut ke mulut, dibawa yang merasa terbantu. Selama niatnya dijaga, dakwah tetap tujuan dan sisanya cuma alat, arahnya tak gampang melenceng. Ilmu tetap di depan, tak disetir kepentingan lain. Kebaikan yang diteruskan jadi amal yang mengalir, walau orangnya berganti.

Pelajarannya sederhana tapi penting. Dakwah yang baik tak diukur dari yang hadir hari ini, tapi yang siap meneruskan besok. Kalau ada yang tanya buktinya, saya tak perlu mencari jauh. Kami penerima manfaat ekosistem yang humble ini ❤️

Jangan Minta Prompt ✍️Minta Ajari Kerangka Berpikirnya🧠

Jangan Minta Prompt ✍️
Minta Ajari Kerangka Berpikirnya🧠

Ukuran kematangan memakai AI bukan seberapa cepat pekerjaan selesai, tapi seberapa dalam kita paham sesudahnya. Repotnya, yang kita ukur sekarang hampir selalu kecepatan🏎️

Dulu orang stres karena kerja lama selesai; sekarang malah bingung karena semuanya selesai terlalu cepat. Tapi diam-diam mengganjal: ini benar-benar bekerja, atau cuma terlihat bekerja? Soalnya makin banyak yang selesai cepat, makin sedikit yang paham yang mereka kerjakan😟

Saya pernah, bersama tim, memperhatikan seseorang presentasi. Di permukaan keren, slide rapi, istilah canggih. Tapi begitu diminta menjelaskan lebih dalam, dia tidak bisa. Dia tidak paham yang ia sampaikan sendiri, logikanya berantakan. Itu bukan hasil berpikir, tapi hasil menyusun yang dibuat seolah-olah berpikir. Dan bukan satu orang.😟🧐😕🥹

Banyak mengira tantangan era AI adalah punya prompt yang canggih. Padahal yang menentukan bukan promptnya, tapi cara berpikir di belakangnya. AI cuma mempercepat isi kepala penggunanya: kalau yang masuk nalar matang, hasilnya makin tajam; kalau yang masuk kemalasan, ia cuma bikin kemalasan terlihat rapi. Maka pertanyaan yang benar ke AI bukan “beri saya jawabannya”, tapi “tunjukkan cara memikirkannya”.

Untuk pekerjaan yang intinya memahami, pemahaman itu pekerjaannya, bukan beban yang dialihkan ke mesin. Menyerahkannya bukan efisiensi, tapi cara berhenti berpikir tanpa terasa.

Jalan keluarnya bukan menjauhi AI, tapi cara kerja yang menjaga manusia tetap ikut berpikir, dan itu sudah punya nama: Hybrid Design Thinking. AI memperluas pilihan, manusia menentukan arah. Yang benar manusia dulu, baru AI mempercepat. Masalah muncul saat AI menjawab dulu, dan manusia tinggal menandatangani.

Jadi lain kali, jangan cuma minta hasilnya, minta AI menjelaskan cara berpikirnya, lalu susun ulang dengan kepala sendiri. Sebab bahaya terbesar era ini bukan mesin yang terlalu pintar, tapi manusia yang pelan-pelan terbiasa tidak lagi berpikir, lalu menganggap itu normal.✍️

Memeras Warga Saat Ekonomi Lesu: Ironi Target Fiskal Pemerintah Daerah.

Bayangkan seorang kepala daerah hari ini. Kasnya menipis: transfer dipangkas, ekonomi lesu, PAD malah turun. Tapi target kinerjanya tidak ikut menyusut. IKU dan target PAD yang dipatok di masa normal tetap harus tercapai, sementara pusat masih menilai daerah dari seberapa mandiri fiskalnya. Ukuran yang dibuat untuk menandai keberhasilan, di tengah krisis, berubah jadi perintah halus untuk mengeruk lebih keras✍️

Refleks paling gampang saat terdesak adalah menggenjot PAD: naikkan pajak, tambah retribusi, perketat pungutan. Masalahnya, warga juga sedang susah. Memeras daya beli yang sudah tipis sama saja memukul ekonomi yang sedang sakit, dan ujungnya PAD makin turun, bukan naik. Persis seperti pedagang yang sepi pembeli lalu menaikkan harga ke pelanggan yang tersisa: bukannya selamat, malah ditinggalkan.💔

Justru di saat seperti ini, sebagian jalan generatif bukan kemewahan jangka panjang, tapi pegangan jangka pendek. Menghidupkan aset dan BUMD yang menganggur adalah langkah paling murah, sebab tidak menambah beban siapa pun. Kemitraan menahan APBD yang kehabisan napas agar tidak memikul semuanya sendiri. Menahan diri menambah pungutan saat daya beli jatuh juga menjaga penerimaan tetap hidup, sebab warga yang masih bisa berbelanja adalah PAD yang masih ada. Membangun ekosistem penuh memang lambat, tapi langkah cepat tadi cukup untuk bertahan🧐

Maka pertanyaan sebenarnya bukan bagaimana memaksa PAD naik di tengah resesi, tapi apa yang masih layak diukur saat semuanya menyusut. Memaksakan target lama cuma menyisakan dua kekalahan: gagal di atas kertas, atau memeras warga sampai ekonominya makin ambruk. Memungut warga yang sedang susah ibarat membunuh ayam bertelur emas justru saat ayamnya sakit. Di masa darurat, target yang tak realistis perlu dinegosiasikan jujur, dan ukurannya digeser: bukan besarnya PAD, tapi dari mana ia datang dan apakah warga masih sanggup bertahan. Itu bukan mengakali kinerja, tapi menolak ukuran yang justru menghancurkan daerah yang ingin diselamatkannya🏁

Sibuk Bertanya “Bisa Bikin Apa?”, Lupa Bertanya “Siapa yang Beli?”.

Beberapa hari lalu melalui daring bertemu dengan 170 pengurus BUMDes dan Kopdes dari seluruh Indonesia. Program Desa BRILiaN 2026, @lppm.unsoed dan @desabrilian.official . Dari Ngawi, Luwu Timur, lereng Merapi, sampai pesisir Sulawesi Tengah.

Masing-masing bawa cerita sendiri. Kandang ayam sudah jadi tapi ternak belum datang lima bulan. Sirup sereh cabai telang beneran beda, tapi belum ketemu pasarnya. Sembilan unit usaha jalan semua, tapi pengurus belum bisa digaji.

Yang bikin penasaran bukan masalahnya. Polanya.

Hampir semua punya modal cukup. Lahan ada, bahan baku ada, warga siap bergerak. Tapi mulainya dari pertanyaan yang salah , bukan “siapa yang butuh ini?” tapi “apa yang bisa kita bikin?” Kebalik. Dan itu yang bikin banyak usaha desa stuck.

Yang paling membekas dari BUMDes Baruga, Luwu Timur. Bandeng dibudidaya, diolah, dijual di warung BUMDes sendiri. Jagung buat pakan ternak sendiri. Petani sekitar dikasih modal bibit, hasilnya diserap jadi bahan baku. Dia nggak nyebut itu ekosistem. Cuma cerita soal apa yang dikerjain setiap hari. Yang bikin saya diam: tidak sekali pun dia nyebut kata “inovasi.”

Ini yang Hatta bayangkan. Koperasi yang tumbuh dari dalam. Bukan dari instruksi. Bukan dari atas. Dari kebutuhan nyata. Dari kerja setiap hari.

Negeri ini punya 75.000 lebih desa. Di baliknya ratusan ribu pengurus yang rapat malam, bikin laporan di sela kerja utama, makin sering tanpa tahu harus mulai dari mana. Mereka nggak kurang motivasi. Kurang cara baca situasinya sendiri. Hari ini saya coba hadir untuk itu. Tapi yang dibawa pulang bahkan jauh lebih besar.🙌🙌

Bukan Tentang Menyembelih, Tapi Tentang Melepaskan

Setiap Idul Adha, kita sibuk dengan teknis: hewan apa, berapa kilo, siapa dapat bagian mana. Wajar. Tapi ada yang lebih besar dari semua itu, yang justru kita lewatkan karena terlalu sibuk merayakannya. Kisah Nabi Ibrahim alaihi salam bukan dongeng lama. Ia blueprint ketahanan mental yang masih relevan untuk siapa pun yang hidupnya penuh tekanan dan pilihan tanpa jawaban mudah. Yang menarik: kisah ini tidak dimulai dari kemenangan. Ia dimulai dari situasi yang kelihatannya tidak masuk akal sama sekali.

Bayangkan: Hajar ditinggal di lembah tanpa air, tanpa tanaman, tanpa tetangga. Tidak ada sinyal. Tidak ada plan B. Ia bertanya tiga kali. Tidak dijawab. Baru saat ia tanya, “Apakah ini perintah Allah?”, Nabi Ibrahim alaihi salam jawab satu kata: “Bala.” Iya. Hajar tidak butuh penjelasan panjang. Cukup tahu ini perintah Tuhan, ia langsung bisa melangkah. Kita hari ini punya banyak hal, data, opsi, grup diskusi, tapi makin susah mengambil keputusan karena takut salah. Hajar punya nol opsi, dan justru paling tenang.

Nabi Ibrahim alaihi salam menunggu 86 tahun untuk seorang anak. Lalu diperintahkan menyembelihnya. Ini bukan kisah kekerasan. Ini tentang sesuatu yang lebih susah diakui: kita sering terlalu takut kehilangan sesuatu yang kita cintai sampai hal itu pelan-pelan jadi yang paling mengendalikan kita. Kita semua punya “Ismail” masing-masing, cuma bentuknya beda. Ada yang berupa jabatan yang tidak berani dilepas meski sudah tidak cocok. Ada yang berupa reputasi yang dijaga sampai lupa tujuan awalnya. Nabi Ibrahim alaihi salam tidak diminta membunuh Ismail. Ia diminta melepas cengkeraman atas Ismail. Itu yang berbeda.

Kurban menggerakkan ekonomi peternak di pelosok yang tidak pernah masuk berita. Itu nyata dan sering kita sepelekan. Tapi pelajaran paling praktis dari Idul Adha bukan cuma soal itu. Kita perlu jujur: apa yang kita sebut aset hari ini, sebagian mungkin cuma hal yang kita takut lepaskan, bukan karena nilainya, tapi karena sudah terlanjur melekat. Nabi Ibrahim alaihi salam mengajarkan bahwa rasa takut kehilangan itu bisa dilatih. Dan kalau belum dilatih, kita akan terus berhenti tepat sebelum hal penting terjadi.

Wisuda: Merayakan Keberhasilan atau Sekadar Kebiasaan?

Setiap wisuda, kampus mengumumkan angka. Sekian persen lulus tepat waktu. Sekian persen IPK di atas tiga koma. Seremoni berjalan khidmat, spanduk terbentang, orang tua berfoto bangga. Dan tahun depan, siklus yang sama berulang🙌

Yang tidak masuk ke dalam angka itu: berapa banyak dari mereka yang, enam bulan kemudian, berdiri di depan dunia nyata dan merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena bodoh. Tapi karena empat tahun belajar lebih banyak melatih mereka menjawab tanpa secara cermat mendampingi perkembangan kemampuan berpikir kritisnya.

Sementara di luar, ekonomi sedang tidak murah hati. Industri menyerap lebih sedikit dari yang dijanjikan, AI berlari cepat dan pasti, mulai mengerjakan hal-hal yang dulu disebut kompetensi. Lapangan kerja yang ada pun bergeser jauh lebih cepat dari kurikulum yang bisa mengejarnya.

Di sinilah masalahnya bukan soal individu yang kurang keras belajar. Masalahnya adalah sistem yang mengukur keberhasilan dari hal yang mudah diukur, waktu dan nilai, bukan dari hal yang penting: apakah seseorang mampu membaca situasi yang belum punya nama, merumuskan pertanyaan yang tepat, dan berpikir ketika tidak ada kunci jawaban. Persoalan nyata tidak datang dalam format pilihan ganda. Ia datang ambigu, berlapis, dan tidak sabar.✍️

Dunia tidak sedang kekurangan sarjana. Yang langka adalah mereka yang tahan bukan karena hafal banyak, tapi karena bisa belajar ulang dengan cepat. Di era ketika AI bisa menggantikan kompetensi teknis dalam hitungan bulan, yang tersisa sebagai keunggulan manusia adalah cara berpikir, bukan isi kepala. Jika pendidikan tinggi belum serius menjawab itu, maka yang kita rayakan setiap wisuda bukan keberhasilan melainkan kebiasaan🧐

Collective Jenius

Di banyak institusi kita, ada ritual yang berulang setiap tahun: rapat koordinasi lintas divisi yang dihadiri banyak orang, menghasilkan notulen tebal, lalu menguap tanpa jejak dalam tiga minggu.

Bukan karena pesertanya tidak kompeten. Bukan karena niat kerja samanya tidak tulus. Tapi karena begitu rapat selesai, setiap orang kembali ke sistem yang mengukur keberhasilannya secara terpisah, melaporkan ke atasan berbeda, dan bersaing memperebutkan anggaran dari sumber yang sama. Inilah kondisi un-collective, bukan sekadar tidak berkolaborasi, tapi secara aktif menghalangi potensi kolektif yang sebetulnya sudah ada.

Ego sektoral yang sering kita keluhkan bukan soal karakter buruk. Dia adalah respons paling rasional terhadap sistem yang menghadiahi kompetisi antar unit, bukan kontribusi kolektif. Ketika KPI divisi A tidak terhubung dengan keberhasilan divisi B, berbagi sumber daya terasa seperti kerugian, bukan investasi. 🙌

Ketika koordinasi resmi butuh tiga surat dan dua disposisi, inisiatif kolaboratif mati sebelum sempat dicoba. Sistem uncollective tidak butuh orang jahat, dia cukup butuh orang-orang waras yang beradaptasi terhadap insentif yang salah🥳

Yang paling ironis: orang-orangnya sebetulnya ingin berkolaborasi. Percakapan informal ☕️☕️☕️ lintas divisi sering jauh lebih produktif dari rapat koordinasi resmi. Solusi terbaik lahir di lorong kantor, bukan di ruang sidang. Tapi sistem kita tidak pernah menghargai lorong, hanya menghargai notulen✍️. Perlahan, orang-orang belajar: kalau tidak ada yang mencatat, seolah tidak ada yang terjadi.

Bergerak dari un-collective menuju collective genius tidak dimulai dari workshop kolaborasi satu hari. Dia dimulai dari keberanian menggugat arsitekturnya, cara mengukur keberhasilan, cara merancang insentif, cara memimpin tanpa memonopoli keputusan.

Collective genius bukan kondisi yang datang sendiri. Dia adalah pilihan yang dibuat setiap hari. Pertanyaannya bukan apakah orang-orang kita mampu berkolaborasi, mereka mampu. Pertanyaannya: apakah kita cukup serius untuk membongkar sistem yang selama ini menghalangi mereka? ✨

Inspired by @h.setyowibowo 🙏