
UMKM Tidak Kekurangan Produk Bagus. Mereka Kekurangan Model Bisnis yang Tepat.
Belajar dari @serat_nusa

Masuk ke pameran UMKM mana saja. Produknya bagus. Kemasannya makin rapi. Fotonya makin profesional. Tapi kalau ditanya bagaimana cara bisnisnya bekerja, siapa pelanggan utamanya, bagaimana mereka menghasilkan uang selain dari jual putus, kenapa pelanggan mau kembali, jawabannya sering kosong. Bukan karena tidak pintar. Tapi karena pertanyaan itu memang tidak pernah diajukan kepada mereka

Ada UMKM yang menjual produk dari batang pisang, material yang tidak ada istimewanya. Tapi produknya sampai ke pasar Eropa. Bukan karena produknya luar biasa. Tapi karena cara mereka menyusun bisnisnya berbeda: pelanggan diajak merancang produk, pengrajin lokal jadi bagian dari nilai yang dijual, dan cerita di balik produk itu sendiri menjadi daya tarik yang tidak bisa ditiru kompetitor. Itulah model bisnis. Dan itulah yang hampir tidak pernah diajarkan dalam pelatihan UMKM manapun😟

Ekosistem pemberdayaan UMKM di Indonesia terlalu lama berhenti di permukaan. Pelatihan packaging. Pelatihan foto produk. Pelatihan konten media sosial. Semua itu perlu, tapi tidak cukup. Produk bisa ditiru dalam hitungan minggu. Model bisnis yang dirancang dengan benar jauh lebih sulit disalin, karena ia menyentuh sesuatu yang lebih dalam: cara nilai diciptakan, untuk siapa, dan kenapa orang mau membayar lebih dari sekadar harganya🏆

UMKM Indonesia tidak kekurangan kreativitas. Yang kurang adalah ruang untuk naik satu tingkat, berhenti sejenak dari urusan produksi, lalu mulai bertanya: bisnisnya sendiri, sudah pernah dirancang belum? Pertanyaan itu tidak butuh konsultan mahal. Tidak butuh modal tambahan. Ia cuma butuh keberanian untuk melihat bisnis yang sudah dijalani bertahun-tahun dengan cara yang belum pernah dicoba sebelumnya😎
















No comment yet, add your voice below!