
Kita Sibuk Mengisi Piring, Tapi Lupa Bertanya Kepada Siapa

Dua minggu lalu saya diundang podcast bersama Dr. dr. Tauhid, dokter yang mendalami neurosains, dan Ibu Shelvi, ahli gizi klinis. Kami bicara tentang MBG. Yang paling membekas bukan debatnya, tapi betapa tiga disiplin berbeda sampai pada satu kesimpulan yang sama: sistem ini bergerak tanpa bertanya kepada siapa makanan itu sebenarnya diberikan.

Ibu Shelvi langsung ke akar. Kebutuhan gizi itu personal, ditentukan usia, kondisi, bahkan genomik tiap anak. Anak obesitas dan anak anemia tidak bisa diberi piring yang identik. Tapi sistem mencatatnya sebagai satu angka keberhasilan yang sama.

Masalah berikutnya lebih dalam. Anak makan junk food bukan karena bodoh, tapi karena ekosistem di sekitarnya cuma menyediakan itu paling mudah. Ketika intervensi datang tanpa menyentuh ekosistem itu, hasilnya seperti kasus dari Jawa Tengah yang Ibu Shelvi ceritakan: anak-anak anemia berat yang tidak merespons makanan bergizi apapun, bukan karena menunya salah, tapi karena cacing di perutnya mengonsumsi nutrisi lebih dulu. Solusi paling berdaya ungkit ternyata Pirantel Pamoat, bukan katering mahal.

Dr. Tauhid menutup dengan satu angka: 85% perkembangan otak selesai sebelum usia 5 tahun. Fondasi yang rapuh tidak bisa dipulihkan optimal, meski intervensi datang belakangan. Kita berlomba mengisi piring anak SD, sementara jendela biologis terpenting sudah menutup tanpa disadari. Dan 33.000 keracunan yang direspons dengan “hanya 0,005%” bukan kegagalan teknis, itu moral fallacy. Tanda bahwa sistem bergerak tanpa bertanya. MBG bisa jadi program terbaik yang pernah ada, tapi cuma kalau satu pertanyaan ini dijawab lebih dulu: untuk siapa?















No comment yet, add your voice below!