
Beberapa hari lalu melalui daring bertemu dengan 170 pengurus BUMDes dan Kopdes dari seluruh Indonesia. Program Desa BRILiaN 2026, @lppm.unsoed dan @desabrilian.official . Dari Ngawi, Luwu Timur, lereng Merapi, sampai pesisir Sulawesi Tengah.

Masing-masing bawa cerita sendiri. Kandang ayam sudah jadi tapi ternak belum datang lima bulan. Sirup sereh cabai telang beneran beda, tapi belum ketemu pasarnya. Sembilan unit usaha jalan semua, tapi pengurus belum bisa digaji.

Yang bikin penasaran bukan masalahnya. Polanya.
Hampir semua punya modal cukup. Lahan ada, bahan baku ada, warga siap bergerak. Tapi mulainya dari pertanyaan yang salah , bukan “siapa yang butuh ini?” tapi “apa yang bisa kita bikin?” Kebalik. Dan itu yang bikin banyak usaha desa stuck.

Yang paling membekas dari BUMDes Baruga, Luwu Timur. Bandeng dibudidaya, diolah, dijual di warung BUMDes sendiri. Jagung buat pakan ternak sendiri. Petani sekitar dikasih modal bibit, hasilnya diserap jadi bahan baku. Dia nggak nyebut itu ekosistem. Cuma cerita soal apa yang dikerjain setiap hari. Yang bikin saya diam: tidak sekali pun dia nyebut kata “inovasi.”

Ini yang Hatta bayangkan. Koperasi yang tumbuh dari dalam. Bukan dari instruksi. Bukan dari atas. Dari kebutuhan nyata. Dari kerja setiap hari.

Negeri ini punya 75.000 lebih desa. Di baliknya ratusan ribu pengurus yang rapat malam, bikin laporan di sela kerja utama, makin sering tanpa tahu harus mulai dari mana. Mereka nggak kurang motivasi. Kurang cara baca situasinya sendiri. Hari ini saya coba hadir untuk itu. Tapi yang dibawa pulang bahkan jauh lebih besar.🙌🙌
















No comment yet, add your voice below!