Ketika Institusi Menyembah IKU;
Semua terlihat baik, kecuali realitas

Banyak organisasi hari ini, pemerintah, universitas, NGO, bahkan perusahaan, perlahan lebih sibuk mengejar angka dibanding menyelesaikan masalah nyata. Dashboard harus hijau, laporan harus rapi, KPI harus aman. ASN bekerja berdasarkan checklist, dosen mengejar publikasi, NGO mengejar jumlah peserta, perusahaan mengejar growth metric. Semuanya terlihat produktif dan terukur, tetapi kehidupan orang-orang yang seharusnya dilayani sering kali tidak benar-benar berubah. Organisasi akhirnya sangat aktif secara administratif, tetapi lemah dalam menghadirkan dampak yang terasa nyata🌱

Ironisnya, semakin banyak yang diukur, masalah justru terasa semakin kompleks. E-TLE membuat pelanggaran lalu lintas semakin terdata, tetapi jalan tetap macet. Kampus menghasilkan semakin banyak riset, tetapi lulusan tetap kesulitan bekerja dan industri merasa dunia akademik makin jauh dari kebutuhan nyata. Program pemerintah terus bertambah, tetapi masyarakat tetap merasa jauh dari solusi. Karena pada akhirnya banyak organisasi menjadi sangat ahli mengelola indikator, tetapi kehilangan kemampuan memahami akar persoalan yang sebenarnya terjadi di lapangan😕

Dalam jangka panjang, lahirlah budaya performatif, semua terlihat baik di laporan, tetapi realitas berjalan lambat. Presentasi semakin meyakinkan, jargon semakin canggih, tetapi inovasi melemah, orang-orang di dalam organisasi mulai lelah, dan publik perlahan kehilangan kepercayaan terhadap institusi. Karena itu perubahan tidak cukup dimulai dari mengganti KPI atau membuat nomenklatur baru. Yang lebih penting adalah mengubah cara organisasi memahami keberhasilan. Sebab indikator seharusnya menjadi kompas, bukan tujuan akhir 🏁

“The test of a first-rate government is how well it responds to the needs of its people.”
Lee Kuan Yew

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *