Selamat mempercepat proses perubahan!

Bulan ini adalah bulan ke-9 setelah ekosistem kami melakukan reset total. Melakukan reorganisasi, spinn-off dan bahkan menutup unit-unit yang tak lagi bisa dipertahankan, apalagi setelah terhantam pandemik panjang kemarin. Sepanjang pandemik, perkembangan teknologi terasa menjadi sangat eksponensial, dipaksa berkembang dalam keterbatasan organisasi. “Melakukan spin-off bahkan mematikan unit-unit bisnis benar ngga ya?” pertanyaan yang meragukan kala itu.

Namun keadaan memaksakan perubahan tak terelakkan, apalagi faktanya memang perkembangan teknologi berubah secara eksponensial, tetapi organisasi berubah secara logaritmik bahkan sulit sekali beranjak.

Ternyata, teori ini dijelaskan dalam Hukum Martec! (Gb A) yang menjelaskan mengapa organisasi manusia justru tidak bisa berubah secepat teknologinya. Perubahan perilaku dan budaya jelas membutuhkan waktu.

Jadi bagaimana caranya agar perubahan juga bisa terjadi cepat pada organisasi, individu, kelompok, proses & teknologi yang dapat diserap oleh organisasi secara produktif sekaligus? setidaknya terwujud tanpa memicu gangguan yang besar.

Tantangan organisasi yang berasa lamban karena manusia dan organisasinya berubah pada tingkat logaritmik, jauh lebih lambat daripada perubahan teknologi yang eksponensial. Pertanyaannya adalah “bagaimana kita mengelola organisasi yang relatif lambat berubah dalam lingkungan teknologi yang berubah dengan cepat?”

Sejak era pandemik, gejala ini semakin menjadi. Teknologi sangat cepat mendisrupi organisasi. Bahkan beberapa organisasi jatuh, tapi beberapa diantaranya justru melesat jauh menjadi maju. Era ini adalah era belajar banyak, pada ekosistem tempat kami tumbuh kami belajar bahwa sebuah organisasi dapat di reset dengan melakukan reorganisasi, spinn-off dan atau ditutup serta merelokasi sumberdayanya pada organisasi-organisasi modern yang ramah teknologi (Gb. B).

Mau tidak mau, organisasi memang perlu me-reset jika ingin bertahan, manajemen perlu secara strategis mentransformasikan organisasi yang lebih agile dengan praktek-praktek agile & lean management, hingga kecepatan perubahan organisasi bisa meningkat (Gb. C).

Selamat mempercepat proses perubahan!

Innovation by Design

Ketika kreatifitas sulit bergeser jadi sebuah inovasi bisa jadi terdapat banyak aspek yang luput dari perhatian bahwa setelah kreatititas ada langkah lanjutan untuk memastikannya menjadi inovasi.

Sebuah inovasi memang perlu ditumbuhkan, kami menyebutnya sebagai Innovation by Design. Hal ini juga terkait kultur yang perlu dibangun, menghantarkan kreatifitas sampai hingga terwujdnya inovasi. Ada tiga tahap penting menggeser kreativitas menjadi inovasi, coba analisis ada gap dimanakah pergerakan kita hingga sulit menjadikan inovasi berkelanjutan?

Zana 1. Tempat Kerja
Mengapa perlu by design & apa kaitannya dengan kultur? Banyak Inovasi tidak dimulai karena justru wokspacenya tidak kreatif. Inovasi biasanya dimulai dari ruang tempat kita berkarya, apakah ruang-ruangnya berisi ambience krerativitas? Diamana inisiatif bisa tumbuh subur. Maka diruang-ruang itulah keterampilan kreatif, motivasi, mood, mindfulness, lingkungan & kompetensi bisa membuncah bebas. Apakah zona 1 ini sudah ada ditempat kamu bekerja?

Zona 2. Merawat.
Kreativitas perlu dirawat dalam perjalanannya agar kemudian menjadi kenyataan, terbangun monetisasinya.& terserap pasar. Nah pada zona ini kita perlu terampil menguatkan Why-nya, ritual & toolsnya. Memastikan proses validasinya dengan kerangka Design Thinkng, menguji pasarnya dengan Lean Startup, membumikannya dengan Design Sprint & memastikan gagasan tervalidasi dengan beragam iterasinya.

Zona 3. Mengembangkan
Gagasan yang berhasil divalidasi baik masalah & pasarnya tak berhenti disitu, karena dalam pengembangannya ada fase lain seperti founders-fit, market-fit & business model fit. Ini jadi tantangan selanjutnya bagaiman membuat gagasana berwujud, menjadi solusi, terserap pasar & memastikan kemandirian dan keberlanjutannya. Memonetisasinya & menjadikannya inovasi berkelanjutan.

Organisasi kita bisa saja organisasi yang kreatif tetapi tak sanggup memonetize di ujung karena Ia tak mampu merawatnya, tak adaptif & mengawalnya jadi inovasi. Begitu pula kebalikannya, bisa jadi kita menghasilkan inovasi, tapi bukan berasal dari kultur & skills yang dibangun, hingga inovasinya berasal dari satu pihak saja kemudian terancam keberlanjutannya.

Merawat Organisasi dengan Kepemimpinan Kolektif

Merawat organisasi dengan kepemimpinan kolektif. Menjadi tantantan memang dalam merawat sebuah organisasi yang sehat menjadi ruang inovasi bagi setiap insannya.

Ada beberapa hal yang menjadi variabel apakah organisasi kita sudah cukup ideal menjadi wadah bagi tumbuhnya Collective Leadership. Ruang-ruang invasi ditumbuhkan dengan memberikan kesempatan bagi setiap orang untuk tumbuh dan menumbuhkan hal-hal berikut, oh ya coba kamu berikan nilai 1-5 pada setiap poinnya, dan lakukan proses retrospektif setelahnya bersama tim kamu pada bagian mana yang perlu diperbaiki.

1.KEBERSAMAAN
-Berkontribusi
-Saling mendukung
-Berlatih kontekstualitas

2.KECERDASAN BERSAMA
-pembelajaran iteratif
-keragaman
-dialog berkualitas

3.KEMANUSIAAN
-Empati
-Keseimbangan
-Mindfulness

4.INOVASI
-Agility / ketangkasan
-Keunggulan
-Kreativitas

5.KETERIKATAN
-Aksi kolektif
-Keterhubungan
-Aksi bersama

6.PELUANG MASA DEPAN
-Ketegasan
-Pemberdayaan
-Berorientasi masa depan

Kepemimpinan di era kompleksitas ini, ada pergeseran yakni “a shift from thinking of a leader as a ‘hero’ to thinking of a leader as a ‘host’” Ketika seorang pemimpin adalah ‘pahlawan’, dia diharapkan memiliki semua jawaban, menyelesaikan semua masalah, dan memperbaiki segalanya untuk orang lain. ‘Pahlawan’ itu dinamis, karismatik, dan brilian. Tantangan dengan dengan pola pikir ini adalah bahwa model perintah & kontrol sering menggunakan solusi cepat yang dibuat oleh segelintir orang yang berkuasa & seringkali solusi ini tidak cocok untuk masalah kompleks yang dihadapi sekarang

Alih-alih menjadi ‘pahlawan’ kita membutuhkan pemimpin sebagai ‘tuan rumah’ yang memiliki keterampilan mempromosikan pembelajaran bersama, pengambilan keputusan kelompok yang efektif, refleksi, visi dan penetapan tujuan & akuntabilitas bersama.

Bagaimana tim bergerak menuju pendekatan kepemimpinan kolektif akan berbeda untuk setiap organisasi, tergantung pada seberapa mengakarnya pendekatan tradisional, seperti yang tercermin dalam struktur, prosedur pelaporan, praktik pengambilan keputusan & banyak lagi.

Saatnnya kita bisa bergerak menuju pola pikir kepemimpinan kolektif, kapan nih kita diskusi dan berbersamai shifting organisasimu?

Collective Leadership

Perbincangan menarik di sebuah tim yang membandingkan tim lain terkait leadershipnya. Ia berkata “Tim disana leadershipnya kuat, anggota timnya punya petunjuk & menurutinya, timmnya selalu tertib & berjalan sesuai kehendak pemimpinnya” Kemudian saya menjawab, “jika kamu berada di tim tsb, apakah kira-kira kamu berkenan mengikuti arahan leadernya hingga detail?”

Perbincangan ini mengarah pada pertanyaan, mana yang lebih baik? Keduanya baik, kita tak bisa memaksakan kultur yang sama pada organisasi yang beda, terlebih sejarah & kulturnya beda. Yang terbaik adalah dimana organisasi berjalan bahagia menuju visinya. Disinilah kita bisa memaknai mana organisasi yang memang baik menggunakan Traditional Leadership atau Collective Leadership.

Collective Leadership, ketika sekelompok individu bekerja bersama & berbagi tujuan. Anggota di dalamnya secara internal & eksternal termotivasi bekerja bersama menuju visi bersama dalam sebuah kelompok menggunakan talenta-talenta uniknya dengan beragam keterampilannya untuk saling berkontribusi bagi kesuksesannya. Kepempimpinan kolektif merekognisi bahwa kesuksesan yang langgeng tidak mungkin terjadi tanpa perspektif & kontribusi yang beragam.

Sebuah proses yang tergantung pada keterhubungan antarbagian yang saling bekerja sama.Bagaimana kelompok bisa bekerja bersama dengan keunikan tiap oranglah yang membedakannya dari kepemimpinan tradisional.

Ada pembagian tanggung jawab, pengambilan keputusan, akuntabilitas & ikatan otentik. Semua dilibatkan dalam mencipta visi & berkomitmen bekerja untuk mencapai visinya. Asumsinya bahwa tiap orang dapat & perlu memimpin. Hanya saja, jika kamu memilih tipe ini maka perlu kondisi khusus untuk memastikan keberhasilan secara keseluruhan, yakni membangun kepercayaan, shared power, komunikasi transparan, efektif, akuntabilitas & pembelajaran bersama. Hal ini didasarkan pada pengakuan bahwa tanpa karunia, bakat, perspektif & upaya banyak pihak, perubahan berkelanjutan akan sulit dicapai.

-A key aspect of collective leadership is that the success depends on the leadership within the entire group rather than the skills of one person- -Follett-

Ada lima tipe seru menurut Cheryl Strauss Einhorn. founder & CEO of Decisive

Setiap orang punya karakter dalam pengambilan keputusan, berdasarkan kemampuan, pengalaman serta kapabilitasnya. Jika kita pernah bahas tentang enam topi berpikir, sekarang ada 5 persona pengambil keputusan coba, kira-kira kamu yang mana? Ada lima tipe seru menurut Cheryl Strauss Einhorn. founder & CEO of Decisive;

1. Petualang. si paling cepat & percaya atas keberaniannya. Jika dihadapkan pada tantangan besar atau kecil maka Ia akan memutuskan yang dirasakan benar daripada menghabiskan banyak waktu memikirkan banyak pilihan. Tipe ini juga dibilang sebagai si pantang takut! Cuma ada hal yang bias dengan tipe ini, sering kali Ia punya Optimism Bias & jika keterusan bisa membuatnya berbahaya!

2. Detektif. Kamu adalah tipe yang menghargai informasi, selalu meminta data & fakta, tak memutuskan basis perasaan. selalu merujuk pada kenyataan. Pecaya bahwa semakin Ia belajar makin semakin baiklah dia. Kurangnya tipe ini adalah Frame Blindness, yakni kurang punya pemahaman Big Picture, atau bahkan berlebih informasi. Kurangnya tipe ini adalah authority bias, suka bertentangan dengan inner voice dirinya.

3. Pendengar. Tipe ini paling dicintai penduduk bumi 🙂 Kala dihadapkan pada situasi kompleks, kita akan menyandarkan diri pada orang tipe ini & meminta pendapat & opini. Akan merasa nyaman bahwa kita tak perlu memutuskannya sendirian. Tapi tipe ini biasanya loss aversion, memilih jalan aman!

4. Pemikir. Banyak pertimbangan, menolak memutuskan cepat. Menimbang opsi, mempertimbangkan positif & negatifnya. Tak perlu banyak data, tapi perlu waktu &ruang berpikir & rasionalisasi mengapa ini perlu dilakukan. Cepat bukanlah tujuannya, tapi proseslah yang utama.

5. Visioner; Ia tak ingin yang biasa-biasa, lebih suka dengan caranya sendiri. Jika dihadapkan pada opsi yang jelas, Ia lebih suka memilih yang beda, yang belum pernah terjadi. Going Extra Miles! sering mengagetkan sekeliling dengan keputusannya! Tipe ini kekurangannya saliency bias, tendensi untuk fokus pada faktor paling mudah dikenalinya.

Ngga ada yang “sempurna” sih, tapi perlu keterampilan untuk menggabung-gabungkannya & membawa pada pemahaman yang lebih holistik & meramu kelima karakter diatas.

“Creating the Best Workplace on Earth”

Baca lagi artikelnya Rob Gofee & Gareth Jones, tentang “Creating the Best Workplace on Earth” ada satu ungkapan menarik bahwa ruang karya adalah ruang dimana individu-individunya diakmodasi oleh perusahaanya dengan beragam keanekaragamannya, mereka sering terjebak pada membatasi diri pada kategori keragaman tradisional seperti gender, ras, usia, etnis & sejenisnya.


Namun saat ini justu yang paling didamba adalah bagaimana ruang karya bisa mengakomodir perbedaan perspektif, kebiasaan berpikir & asumsi. Organisasinya jadi wadah dinamis menghasilkan banyak inovasi baru karena kaya gagasan.


“Let People Be Themselves”
Organisasi yang kaya gagasan berbeda & membiasakan diri menyatukannya akan berlari lebih kencang, dan ini lazim pada organisasi yang inovatif. Ruang karyanya memperkenankan beragam inisiatif berbeda namun dipastikan mereka mengarah pada hasil.

Organisasi bisa kita bentuk menjadi tempat dimana setiap orang menjadi dirinya sendiri & berbaur -Let People Be Themselves- , kegembiraan itu akan hadir, pemimpinnya pun akan membawa timnya untuk fokus pada kekuatan individunya, bergerak karena melihat aset yang dimiliki, bukan “deficit focused”.

Magnify People’s Strengths
Keleluasaan berkarya bisa jadi karena prinsip organisasi yang dianut adalah bagaimana melakukan upaya “Magnify People’s Strengths”, membuat karyawan terbaiknya menjadi lebih baik, paling tidak lebih baik dari yang pernah mereka bayangkan. Tiap orang tumbuh bersama.

Stand for More Than Shareholder Value.
Memberikan ruang agar individu didalamnya ingin menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari dirinya sendiri, mendekati pada sesuatu yang dapat mereka percayai adalah perjalanan proses yang bermakna.

Sudah menjadi hal yang biasa untuk menegaskan bahwa organisasi membutuhkan makna bersama “shared meaning”, Tapi shared meaning ini lebih dari sekadar memenuhi keinginan individu/organisasinya, ini tentang bagaimana menempa & memelihara hubungan yang kuat antara nilai-nilai pribadi & organisasinya bersamaan.

Shared meaning is about more than fulfilling your mission statement—it’s about forging powerful connections between personal and organizational values – Gofee

KOMINFO memblokir beragam platform yang digunakan para pelaku peranan masa depan

Kominfo memblokir beragam platform yang digunakan para pelaku peranan masa depan. Eranya sudah maju tapi tampaknya pemerintah masih juga tergagap-gagap memahami era digital.

Dunia digital menghadirkan peranan baru, pekerjaan baru. Tumbuh banyak para Gig Economy – Contingent Workers yang memberikan banyak fleksibilitas. Pekerjaan ini bisa berupa independent contractors, freelancers, konsultan bahkan gamers!

Bekerja dengan cara-cara baru yang kerap kali tak pernah dibayangkan. Punya keleluasaan eksplorasi beragam ekosistem yang menariknya untuk berperan & melakukan beragam karya secara elaboratif yang berdampak. Gig menawarkan fleksibilitas yang begitu maksimal baik bagi perusahaan ataupun bagi pekerjanya. Selain itu juga menawarkan efisiensi yang sangat menarik bagi para pelakunya hingga dapat memastikan akselerasi yang baik.

Kegagalan paham kerap terjadi karena tak juga mampu melihat secara holistik, juga sistematika kerjanya yang silo kerap kali menimbulkan korban di masyarakat terutama terkait potensi tumbuhnya teknologi baru yang melahirkan ekonomi baru dengan cara-cara baru dianggap melanggar, aturan dijadikan senjata, “unintended consequences”nya tidak banyak dipikirkan

Kebijakan yang tidak pro digital ini memang diakibatkan kesenjangan digital yang masif, tertinggal paham bagaimana proses bisnis berjalan sekarang. Coba lihat dari generasi mana pengambil kebijakan vs siapa pelaku ekonominya. Alih-alih harus lapor, kebijakan ini malah menghancurkan industri secara menyeluruh juga ekositemnya. Walau misal PayPal dibuka lagi sementara, karena tekanan publik & memberikan kesempatan publik untuk pindahkan saldo (?) lalu bagaimana kepastian jangka panjangnya?

Ruang digital yang aman & kondusif itu dipahami dengan kerangka pikir yang tepat, pahami dulu proses bisnisnya, tarik garis waktu penyelesain elaboratifnya. Perusahaan-perusahaan digital yang jadi tempat para Gig ini bekerja umumnya adalah perusahaan global yang reputasi & kegunaanya jelas. Pendekatan-pendekatan merangkul ekosistem inovatif seringkali kontradiksi dengan inovasi. Inilah yang perlu jadi pembelajaran lebih lanjut, agar kita tak terjebak cara-cara lama di era yang baru.

Tipe organisasi bernama DREAMS! (Rob Goffee & Gareth Jones, HBR 2013)

Perbincangan menarik dengan sahabat saya malam ini, teman yang sering kali jadi lawan bicara terkait mimpi masa depan. Mungkin mimpi kita memang kadang kala ngga muat dengan organisasi yang kita diami saat ini.

Wadah yang seperti apa sebenarnya yang membuat kita bisa begitu energik dalam melakukan setiap langkah karya kita dengan bahagia? Dimana kita bisa sebebas mungkin membawa mimpi & membumikannya. Tipe organisasi ini bernama DREAMS! (Rob Goffee & Gareth Jones, HBR 2013)

Difference – “I want to work in a place where I can be myself.” Ketika tempat bekerja kita menjadi tempat yang mewadahi diri kita apa adanya. Bisa menjadi diri sendiri dan saling melengkapi dengan kawan lain.

Radical honesty – “I want to know what’s really going on.” Jujur, tak banyak drama hingga segala sesuatu tentang proses berkarya menjadi terang benderang, kejujuran ini sering kali menghilang atas nama menghormati pimpinan atau rasa segan sesama tim.

Extra value – “I want to work in an organization that makes me more valuable.” Tempat bekerja bukanlah hanya sekedarnya jadi tempat biasanya bekerja, tapi justru menjadi wadah yang membuat setiap individunya menjadi lebih bernilai.

Authenticity – “I want to work in an organization that truly stands for something.” Tempat bekerja yang otentik adalah tempat dimana kita memang bekerja karena kesungguhan mencapai tujuan, fokus dengan goalsnya, teguh karena purposenya.

Meaning – “I want my day-to-day work to be meaningful.” Setiap harinya memberikan banyak pembelajaran, menumbuhkan nilai yang berarti & memberikan semangat yang meletup karena banyak makna baru hadir.

Simple rules – “I do not want to be hindered by stupid rules.” Poin terkakhir ini banyak terjadi di beragam organisasi, kala banyak aturan mengekang. Saat ini, justru nilai-nilai dan integritaslah yang menjadi dasar segala eksperimen inovatif yang diperlukan untuk melompatkan inovasi jauh diatas harapan. Nilai ditumbuhkan dengan membangun budayanya.

Buat kamu yang punya tempat kerja belum ideal mewadahi mimpi kamu, yang sabar yaa! Ada kalanya memang seorang agen perubahan menjalani mimpinya terlebih dahulu dari pada yang lainnya, proses petualangannya akan seru dan menantang!

Bagaimana proses transformasi organisasi kamu?

Melihat penggusuran beragam Aset PT. KAI membuat ingatan kembali ke tahun 2009 kala Kereta Api Indonesia memulai transformasinya dibawah tokoh transformatif Ignatius Jonan. Juga teringat konsep “Innovator’s Dillema”, yang besar akan kalah meski Ia merasa berinovasi, kalah dari mereka yang melakukan inovasi disruptif.

Sebagai penduduk di

Kota tempat PT.KAI berpusat, kami melihat langsung perubahannya, yang sangat terasa diawal adalah perubahan mindset orang-orangnya, jelas bergerak dari product oriented jadi customer oriented. Bisnisnya berkembang pesat setelah menjadi sebuah User Centric Company.

Sebelumnya KAI bekerja berdasarkan produk yang dimiliki & tidak memikirkan apa yang dibutuhkan pelanggan. Perubahan mindset adalah proses panjang, bukan sulap yang bisa dikerjakan dalam semalam. Dirawat dalam kesehariannya, & dikerjakan tiap hari, maka perubahan lain yang terlihat adalah kumpulan action setiap hari.
Melahirkan outcomes!

Lanjutnya adalah konsistensi, upaya paling memantang sambil menemukan ramuan model bisnis yang menyeimbangkan Desirability – Feasibility – Reability yang pas menjadi perjalanan perbaikan panjang melahirkan keberhasilan transformasinya.

Hal menarik juga adalah Agile Leadership yang diterapkan, Action speaks louder than words, tidak boleh ada kepentingan pribadi dalam tugas. Leader langsung tampil di lapangan, turun ke lapangan & merasakan persoalan yang ada & memberi contoh.

Jika merujuk pada proses difusi inovasi, contoh KAI persis sama yakni terdiri dari tiga kelompok besar pegawainya 1) Enggan berubah, 2) Bingung, dan 3) Ingin berubah.

Transformasi diurai dalam roadmap perubahan selama lima tahun, dan konsistensinya membuahkan 95% jadi pegawai mau berubah.

Kepemimpinan adalah tentang memberi contoh, merasakan pada setiap aspek teknis yang bermasalah, hingga dibungkus menjadi kebijakan. Hal yang lebih menarik sebenernya adalah keberhasilannya memastikan keberlanjutan, melahirkan legacy organisasi yang tidak tergantung pada pihak lain & kaderisasi profesional. Jadi ketika perlahan asset-asset KAI menjadi jauh lebih baik, ini adalah buah kerja keras transformasinya.

Bagaimana proses transformasi organisasi kamu?

Menyandingkan Radio di era digital X Minyak Balur adalah ide gila, juga dengan TJDB yang tepat!

Satu hari saya kesulitan menghubungkan bluetooth saya hingga imusic tak kunjung menyala di kendaraan, akhirnya menyerah. Kemudian ditelusurilah saluran radio yang sudah lama sekali tak disentuh ketika berkendara.

Kebetulan seorang kawan radio yang lama tak jumpa, menghubungi melalui Whatsapp berkabar tentang nomor barunya, kemudian Ia bercerita tentang sebuah stasiun radio yang tempat Ia bekerja saat ini. Ternyata radio itu adalah saluran yang saya sering kali saya setel tak sengaja & jadi ketagihan.

Dari pembicaraan itu kemudian lihat webnya, ada kalimat menarik terkait purpose radio itu hadir, di halaman pertamanya dituliskan “Menyajikan musik yang memberikan perasaan senang, sehingga memberikan pendengarnya energi/vibe positif” terus terang saya kaget! Mengapa, karena jarang sekali sebuah usaha menuliskan konsep “The Jobs To Be Done” dengan lengkap dan tepat!

Jika dalam penetapan segmen konsumennya bukan mengarah pada genre lagu, atau usia dan gender apa, tapi lebih ke outcomes customer. Di radio ini didefinisikan sebagai “perasaan & mood pendengarnya setelah mendengar lagu di radio ini”. Lebih nyentrik lagi karena ungkapan “gak perlu jadi radio nomor 1….yang penting kalo bosen sama radio nomor 1 di channel kamu, bisa kali dengerin Voks!” keren!

Dibalik kalimat ini saya duga ada model bisnis menarik, karena biasanya usaha menggunakan TJBD yang baik berasal dari ide & organisasi yang inovatif. Nama radio ini VOKS!  salah satu inovasi bagaimana menghidupkan lagi radio dan me-relatekannya di era digital.

Pas dilihat, dari sudut pandang model dan proses bisnis ternyata unik banget! Model bisnisnya sebagai corong Kutus-kutus, sebuah produk Minyak Balur. makanya namanya VOKS, Voice of Kutus-Kutus! Dibuat sebagai radio jaringan untuk mendistribusikan Kutus-kutus.. jadi biaya iklan rupanya berputar jadi corong marketing inovatif pada jejaringnya sendiri, keren!

VOKS Radio jika di Jogja masih terdengar baru ini sebenarnya sudah dulu bernama Rakosa yang kemudian diakuisisi oleh pemilik PT. Kutus Kutus Herbal yakni Bambang Pranoto. Sekarang ada dibanyak kota! Menyandingkan Radio di era digital X Minyak Balur adalah ide gila, juga dengan TJDB yang tepat!