Cara Belajar yang Eksploratif

Pernah denger kasus PO Haryanto engga? dimana sang ayah & anaknya punya dinamika yang pelik hingga sang anak yang dipecat dari perusahaan sang Ayah🥲

Dalam perjalanannya PO Haryanto adalah PO bus yang mumpuni, sesungguhnya jika dilihat dari pendekatan manajemen, perusahaan ini bisa besar, sukses & dicintai oleh pelanggan, Bus-Mania karena tedapat kolaborasi yang unik diantara pengelolanya, dua generasi yang berbeda dalam sebuah perusahaan keuarga dengan nilai, karakter & budayanya yang beda karena memang terlahir dari dua jaman yang bebeda. Sang Ayah, Kopral (Purn) H. Haryanto kelahiran tahun 1953 Vs Rian Mahendra kelahiran 1983, Baby Boomer Vs Gen Y🤔

Perpaduan ini sesungguhnya adalah sebuah kekuatan yang baik, sang Ayah sebagai Baby Boomer punya rasa ingin tahu yang tinggi, mandiri & optimis dengan pencapaian, sedangkan sang anak sebagai Gen Y, Ia bisa diandalkan dalam hal kedisiplinan & soal pemanfaatan teknologi (tech-savvy).punya kepercayaan diri yang baik🤠

Walau kerap bertabrakan dalam hal cara & budaya. kerja Gaya Rian yang banyak belajar dilapangan, cara belajar yang eksploratif, cara kerjanya yang tanpa ruang memang kerap kali dinilai salah oleh generasi sebelumnya, dicap sebagai nakal / begajulan🥳

Keberanian Rian dalam melakukan eksplorasi menghasilkan enggagement luar biasa para penggemar bus, membesarkan usahanya dengan cara yang baru, namun tampaknya cara-caranya bereksplorasi ini tak tertangkap baik dari kaca mata lama yang lebih fokus untuk menghindari kegagalan😎

Padahal saat ini & masa depan, keberanian eksplorasi & gagal adalah modal penting inovasi, jangan dipandang sebagai kesalahan. Kebuntuan ini justru menghasilkan hal fatal bagi perusahaan besarnya😫

Dilema perusahaan keluarga memang lazim terjadi, jika Ia tak segera membenahi budaya organisasinya secara sungguh-sungguh, memisahkan hubungan keluarga dengan profesionalnya & memberikan kebebasan bereksplorasi. Saat ini kita bisa lihat beragam perusahaan yang bisa adaptif mengembangkan budayanya, hingga Ia tumbuh membesar dengan keberanian-keberanian eksplorasinya. Membagi peran adalah cara jitu, memberi ruang eksplorasi sekaligus menjalankan proses eksploitasi di saat bersamaan🤗

Konsisten Membangun Momentum

Pernah ga mengalami kondisi organisasi dengan beragam kekhawatirannya, sedangkan timnya perlu energi bergerak ke depan? Sebuah dinamika organisasi memang kerap dihadpkan pada fakta-fakta di lapangan dengan beragam kondisi yang mengkhawatirkan, bisa tentang kondisi keuangan, pasar, tim yang kurang bahagia atau hal-hal lainnya.

Tidak selalu baik kita bersandar pada kekhawatiran, baiknya kita lebih condong untuk lebih banyak bersandar pada peluang, ketimbang kekhawatiran. Seberapa lebih beratkah neraca kekhawatiran kita? dibandingkan dengan semangat kita mewujudkan peluang? Lebih sering kekhawatiran timbul karena rujukannya terkait masa lalu, fakta dan data yang diperoleh hingga saat ini, kemudian meproyeksikannya pada masa depan. Namun, kondisi ini akan sangat berbeda jika kita mampu menggali dan mendapatkan peluang-peluang baru, kemudian bangun momentunya bertahap kemasa depan.

Neraca peluang perlu lebih berat dari neraca kekahawatiran. Peluang diraih dengan membuka beragam pintu yang berbeda. Konsistensi membuka pintu-pintu baru, bersua dengan beragam mitra dan memulai proses ko-kreasi diantaranya perlu dibangun. Konsistensi berarti membangun momentum secara bertahap ya, bukan bertemu berulang-ulang tanpa hasil tapi pastikan peluang itu menguat seiring konsistensi pertemuan.

Tahapannya pastikan
1. Connect, terhubung dulu
2. Colaborate, petakan kekuatan masing-masing
3. Cocreate, buat sesuatu, jadikan MVP, iterasi kemudian!
4. Commerce, pastikan mendapatkan manfaat finansial bersama
5. Celebrate, rayakan keberhasilan, pastikan keberlanjutan.
6. Capacity! eksponensialkan kapasitas dengan kolaborasi

Berangkat,cari peluang diluar, mulai dengan ngopi-ngopi & merawatnya dari langkah ke-1 hingga 6, jauhkan terlau banyak baca laporan keuangan yang bikin degup jantung lebih kencang, turunkan resikonya dalam manajemen resiko yang persisten. Coba sandingkan lagi neracanya, lebih berat mana?

Semestinya kita bergerak bermula dari peluang (healthy urgency) bukan karena khawatir (unhealthy urgency) karena energi dalam prosesnya pun akan berbeda, membangun momentum akan seperti perjalanan mengasyikkan layaknya eksplorasi penuh adrenalin, menjadikannya petualangan seru!

Mencipta Wadah Belajar Perbesaran Dampak

Perjalanan pembelajaran dalam sebuah institusi pendidkan memang idealnya menghasilkan proses trasnformasi diri bagi para pembelajarnya. Jadi wadah yang sistematis meningkatkan kapasitas diri, kekuatan berpikir & imajinasinya secara eksponensial. Namun, institusi pendidikan jadi sering terjebak dengan rutinitas, bekerja keras untuk mencapai output tertentu bagi siswa-siswinya ketimbang memastikan ekosistem belajarnya jadi wadah yang terbaik bagi anak-anak didik melakukan transformasi dirinya.

Padahal, pendidikan punya peranan penting dalam memutus kemiskinan. bukan sekedar jadi pabrikan masal meluluskan siswa-siswinya & memberikannya tanda Ia berpengetahuan mereka berikan dengan sehelai ijazah & atau keberhasilannya yang diukur dari ketepatannya lulus tepat waktu atau tidak, perkara Ia kemudian jadi apa & apakah Ia punya mimpi besar, tak peduli juga, yang penting lulus & bernilai baik.

Banyak mahasiswa bertanya, “Pak baiknya saya lanjut kemana?” Saya tentu menyarankan, jika melanjutkan pendidikan tidak hanya melihat dari apa saya yang akan dipelajari. Tapi juga lihat dengan seksama, apakah kampusnya punya ekosistem yang baik, matang & terhubung. Juga mau memastikan kelas-kelas pengetahuan & ekosistem pengajarannya memberikan ruang belajar dalam mengubah hidup para peserta didiknya.

Sekolah bukan hanya belajar per mata kuliah, tapi Ia harus hidup dalam ekosistem yang baik, lembaga penyelenggaranya berkomitmen menjadikan lembaganya sebagai organisasi pembelajar. Wadahnya memperkenankan tumbuhnya saling keterkaitan, akses, komunikasi, kolaborasi dan beragam proses saling mutual dala, mencipta wadah belajar perbesaran dampak.

Pastikan bersekolah dimana kampusnya juga paham bagaimana memberikan contoh sebagai organsasi pembelajar, jadi tempat belajar terbaik mengembangkan mindset, nilai & budaya karena, hal-hal yang tak mungkin jadi sejumlah sks karena Ia dilakukan dalam kesehariannya dalam wadah transformatifnya.

Jangan hanya sekedar berpendidikan, karena yang terdidik belum tentu kemudian jadi pembelajar, agar Ia tetap relevan dengan jaman& kondisinya, mau jadi pembelajar sepanjang hayat❤️

Terimakasih @upnveteranjakarta sesi quality dialognya🤩

Slow Thinking; Menekuni Mimpi

Jangan lupa untuk visualisasikan mimpi usaha kita dengan jelas. Imajinasi ini menjadi penting karena akan menuntun kita untuk mencapai tujuan yang diidam-idamkan. Kita sering mengenalnya dengan nama Visi. Visi tak perlu ditempelkan di dinding besar-besar, atau di laman website usaha kita, yang lebih penting justru pada bagaimana visi ini jadi imajinasi yang mendorong energi kita melangkah dengan kebahagiaan dan antusiasme yang menggebu-gebu.

Tapi kemudian dalam perjalannnya, kita perlu hati-hati jika mimpi ini kemudian menjadi beban dikemudian hari, bagi pendiri dan timnya. Idealnya, mimpi yang tervisualisasikan itu tetap menjadi energi pendorong perubahan, bukan kemudian tak terasa berubah sedikit demi sedikit menjadi beban.

Jika mimpi dan imajinasi masa depan kita dalam perjalanannya kemudian jadi beban, membuat kita lelah dan menguras energi, artinya ada yang kurang tepat dalam proses memelihara mimpinya, ada yang keliru juga dalam menurunkannya menjadi strategi-strategi kecilnya. Menjadi penting memahami bahwa imajinasi ini, pada saat ini bersifat imajiner, sesuai dengan namanya “imajinasi” Ia akan terwujud secara bertahap, jangan lupakan bahwa Ia akan dicapai dalam jangka waktu tertentu di depan.

Kelelahan akan sangat mungkin terjadi jika ternyata dalam perjalannnya kita tak sadar menyeret mimpi kita jadi lebih cepat & memaksanya hadir segera. Konsistensi sebenarnya adalah kunci utama, lebih lanjut kita bisa mengurai konsistensi dalam 6 spektrum, kira-kira seperti ini;

1. Urai mimpi dalam horison waktu
2. Tinggikan perspektifnya, hingga tau cara memandangnya dari atas
3. Luaskan pengetahuannya, baca referensinyam cari tau ilmu, pengetahuan dan ketermpilannya
4. Mantapkan kekuatan jejaringnya, resourcefulness-nya, intensifkan obrolan-obrolannya dengan banyak pihak
5. Dalamkan wisdomya, banyak filosofi dasar dan hikmah dari setiap langkah yang perlu ditempuh.
6. Belajar sejarahnya, hingga kita bisa belajar big why-nya

Jangan sampai mimpi berubah menjadi beban, tapi sebenarnya yang lebih ditakutkan adala ketika usaha, bahkan hidup tak punya mimpi.

Membangun “Systemic Leadership with Purpose”

Memastikan kembali bahwa kita berada dalam satu wadah yang terdiri dari simpul-simpul yang terkoneksi. Bukan sekedar simpul-simpul mandiri tanpa koneksi. Memastikan kembali bahwa kita berada pada sebuah ekosistem dimana simpul-simpulnya terkoneksi nyata, walau garis-garis interaksinya tampak maya dalam kehidupan. Garis imajiner interaksi ini perlu disadari penuh, bahwa inilah yang membawa kekuatan eksponensial bernama Network Effect🙌

Ekosistem yang simpulnya saling terkoneksi adalah wahana terbaik pembelajaran. Menjadi organisasi pembelajar dimana orang per orangnya tak perlu menunggu waktu lama mengenali purposenya. Dalam organisasi konvensional, proses pergeseran dari level awal berpikir ke level tinggi kematangan berpikir. Tingkatan kepemimpinan seseorang dibagi menjadi 6 tingkat kematangan (Digital Leadership, 2022) 1) Self-oriented Impulfsif, 2) Group-centric conformist, 3) Rationalistic-funtional, 4) Self-determining confident, 5) Relativistic-indiviadualistic, 6) Systemic-autonomous. 🙌

Tak mungkin kita menunggu usia tua untuk menghadirkan kematangan berpikir, itu pun jika beruntung. Menghadirkan ekosistem pembelajar adalah hal terpenting proses akselerasi kematangan berpikir, menggeser kebutuhan atas security menjadi purpose, menggeser “Preassure” jadi “Co-creative”🥳

Bisa saja sebuah komunitas hadir tapi minim interaksi, atau membiarkannya ketergatungannya pada satu pihak. Kesalahan umumnya adalah tidak memelihara terjadinya keterhubungan yang masif & interaksi antar simpulnya yang frekwentif. Jika sebuah komunitas terdiri dari kehadiran beragam simpul tapi hanya tergantung pada 1-2 pengerak, indikasinya komunitas ini terjebak pada kematangan tingkat dua, yakni Group-centric conformist. Perlu segera mengakselerasi menumbuhkan budaya co-creativenya, menciptakan zona aman belajar, berinteraksi dengan masing-masing otonominya. Membangun “Systemic Leadership with Purpose”🤩

Pembelajaran dengan konsepsi Network melahirkan proses pembelajaran & pematangan cara berpikir, bekerja & bertindak yang eksponensial, jadi sekumpulan pembelajar yang saling memajukan.

“Being a great place to work is the difference between being a good company & a great company.”

The Unite Perspectives on Organizations

Mengawal tim menjalani prosesnya jadi tim yang inovatif memang tak bisa dijalankan sebagai sebuah keajaiban yang tiba-tiba muncul. Tapi sangat mungkin diakselerasi. Perubahan era industri jelas memerlukan perubahan paradigma mendasar, hingga kita punya strategi tepat yang relevan dengan jaman. Jangan lupa, dalam 1 abad terakhir perubahan dan perkembangannya sangat pesat dimulai dari
1. Budaya agraris (1.0)
2. Budaya industri (2.0)
3. Budaya informasi (3.0 – 4.0)
4. Budaya holistik (5.0)

Sangat jelas pergeserannya kala dulu budaya erat dengan struktur yang feodal, perbudakan yang kemudian bergeser pada budaya birokrasi & struktur autoritarian. Pada Industri 2.0 menekankan pada proses efisiensi & munculnya unit-unit bisnis yang process driven

Era 3.0 muncul orgranisasi-organisasi yang flat, meningkatnya fleksibilitas, hingga era Industri 4.0 dimana digital membawa ketangkasan yang lebih tinggi karena saling terkait hingga banyak bermunculan proses co-creation dimana-mana.

Sejak pandemik, era digital terjadi dimana-mana, bertemu dengan momentum bumi yang makin terdegradasi lingkungannya, muncul urgensi dimana terjadinya Circular Organization, dimana tiap organisasi memungkinkan berelaborasi membentuk Inovasi Terbuka, berkontribusi bersama membentuk budaya holistik.

Berkaca pada tim kita, dengan perkembangan ini apakah kita masih ingin mempertahankan kompetisi, kerjasama (co-operation) /Co-creation? Perkembangan budaya kini bergeser dari;
✅ continuity jd disruption
✅ consistency -> agility
✅ power OVER people homogeneity, exclusion -> power WITH people heterogeneity
✅ external -> determination

Paradigma yang membedakan kita saat ini lebih lanjut adalah;
✅ Value creation tak lagi diciptakan oleh mesin dengan produksi masal yang terstandarisasi, tapi oleh manusia itu sendiri
✅ Bukan lagi line management yang hierarkis, tapi project management dengan perannya yang jelas.
✅ Bukan lagi management by control dengan superioritas dan subordinatnya, tapi tentang kepemimpinan dengan trust yang dibangun.
✅ Bukan lagi work-life balace tapi work-life blend.
✅ Bukan lagi centralized management tapi collegial leadership.
✅ Top-down structure jadi value creation structure🚀

Ekosistem Pembelajar

Mencipta pembelajar sepanjang hayat tentu perlu ekosistem pembelajar, punya kawan yang saling menuntunnya pada tiap tahapan kematangan berpikirnya & mengakselerasinya dengan baik✅

Bagaimana sebenarnya proses tumbuh seseorang dalam berpikir? Dalam The Unite Innovation & Transformation Model, diungkapkan beberapa tahap bagaimana perkembangan proses berpikir dengan melihat bagaimana perspektif individu melihat dunia;

I. Self-centric. Tingkat kematangan ini terjadi ketika seorang individu masih fokus pada kepentingan individual, perlu pengembangan kemampuan asertif, masih Impulse Driven / bertindak berdasarkan instingnya, kebutuhan hidupnya masih berkutat pada bagaimana mendapatkan rasa aman (Security)🤯

II Group-centric. Ia mulai fokus pada kolektivitas ketimbang pada kebutuhan seseorang saja, kebutuhan hidupnya bergerak pada hal-hal yang menyangkut kepemilikan😱

III. Skill-centric. Caranya berpikir mulai difokuskan pada bagaimana Ia bisa melakukan hal-hal yang rasional & terkukur. Kebutuhan dirinya adalah bagaimana Ia mengembangkan personalitasnya. Kebutuhannya adalah bagaimana Ia bisa memastikannya secara terukur😚

IV. Self-determining. Mulai fokusnya memberdayakan dirinya. Pada tingkat ini kebutuhan dirinya adalah terkait status dirinya😎

V. Multi-perspective. Persepsi dirinya ditandai dengan kematangan yang lebih lanjut, Ia fokus pada beberapa sudut pandang yang berbeda atas kebutuhan & perasaan yang beragam. Ia mulai memaknai nilai-nilai penting hidupnya yang fundamental & digunakan sebagai landasan berpikirnya😎

VI. Systemic. Kematangan berpikirnya akan membawanya untuk fokus pada sistem, keseluruhan yang integral, berpatok pada purpose, tujuan, otonomi & keterkaitannya antar simpulnya. Kebutuhan di level ini adalah pemenuhan akan Purpose🤩

Kebutuhan mendesak untuk beranjak ke level 6, tak bisa ditawar lagi & dilakukan serial dengan proses waktu lama. Dunia sudah tak lagi berada sekedar di era Industrial 4.0, tapi Earth 5.0 yang masif dengan Circular Organization dengan Open Innovationnya. Tak bisa elak lagi atas kebutuhan dusrupsi, agility, power WITH people heterogeneity, inclusion & self-determination. Wujudkan dengan ekosistem pembelajar!🤠

Superstar & Rock Star

Menurut Kim Scott, dalam buku Radical Candor, ada dua jenis “bintang” dalam tim, Superstar & Rock Star.

Rock Star, golongan yang bisa diandalkan & tak benar-benar ingin bergerak ke atas / depan, tak tertarik dengan peran baru / tanggung jawab tambahan. Mereka terus melakukan pekerjaan dengan senang hati & sungguh-sungguh selama kita tak mengacaukannya.

Kesalahan umum dalam menganggapinya adalah dengan menanggapinya sebagai individu kurang ambisus. Padahal justru Ia akan membantu mendorong keunggulan & stabilitas tim. Mereka konsisten & bisa diandalkan & melakukan pekerjaan hebat & puas melakukan hal yang sama dalam wakatu lama dengan konsisten.

Lain dengan Superstar, senang tantangan baru, ambisius adalah kekuatan penting pertumbuhan tim. Ia banyak menantang status quo, punya jalur karir yang tajam karena terdorong untuk menambah tanggung jawab. Mereka berada pada lintasan pertumbuhan yang sangat dinamis, hingga mereka biasanya tak bertahan lama di tim kita.

Anggota tim kita bisa masuk & keluar dari kategori mana pun, bisa berubah. Keduanya sama-sama mampu bekerja hebat. Perbedaan utamanya ada di jalur perkembangan yang diinginkannya.

Untuk Rockstar, jangan langsung mempromosikannya. Bergantung pada situasi hidup mereka, mereka mungkin punya alasan yang benar-benar sahih untuk tidak menginginkan promosi, yang mereka butuhkan adalah bisa memperdalam keahliannya.

Jika organisasi terfokus pada promosi, Rockstar akan merasakan tekanan yang tidak perlu untuk pura-pura jadi superstar, bisa merasa malu / gagal karena ingin tetap dalam peranannya. Kita perlu pastikan bahwa Rock Star dihormati (& diberi kompensasi) sama seperti superstar. Bayar secara setara & ingatlah untuk memuji Rockstar sama seperti rekan superstarnya.

Untuk Superstar, tawarkan mereka tantangan yang lebih besar. Dorong mereka untuk berpikir besar & jadi kekuatan perubahan. Pastikan tidak menekan ide-idenya & ketika tiba waktunya untuk mempromosikan, buatlah beberapa alternatif layak, pastikan punya rencana suksesi untuknya

Keduanya berharga, coba bedakan & buatlah rencana pertumbuhannya. Cari peluang bagi superstar u/menghadapi tantangan baru & Rockstars u/ memperdalam keahliannya.

Complicated & complex

Sebuah tim perlu secara konstan dipandu, jika perlu dipaksa agar mencapai puncak tujuan. Anggap saja sedang mendaki sebuah bukit, menyusurinya ke atas berjalan mengarah pada tujuan ultimatenya di puncak. Jika kita berhenti atau stagnan disebuah titik, maka dunia akan berputar mundur di atas kita kemudian.

Tujuan dari tim bukan sekedar sampai, tapi bagaimana memeliharanya. Bukan hanya menjadi mesin yang diberikan oli dengan teratur, tapi jadi organisme yang kompleks & adaptif. Menjadi kompleks itu baik tapi bukan berarti complicated.

Ada perbedaan besar antara “complicated” & “complex”. Jika sesuatu kompleks, maka yang perlu dilakukan adalah memetakannya & diturunkan keterhubungannya dengan teratur, diurai, diaktifkan, dikelompokkan & diorkestrasi hingga bisa memprediksi dengan relatif-pasti dampaknya pada sistem yang lebih besar.

Kompleksitas biasa muncul dari sebuah kreatifitas. Seperti alamiahnya sistem yang kompleks memang akan menimbulkan hal-hal yang tak stabil, nonlinier & menghasilkan berbagai hasil saat salah satu variabelnya diubah. Banyak variabel yang kemudian bisa berubah secara bersamaan dalam sistem yang kompleks, sehingga akibatnya akan banyak hasil hampir tidak mungkin diprediksi akurat.

Dalam berkelompok, karena melibatkan multi individu berbeda tentu akan jadi sistem kompleks, dengan segala inisiatif, pengalaman & kontribusinya yang berbeda, maka menjadi penting tim ini untuk memiliki kemampuan beradaptasi & resiliensi hingga lahirnya keberhasilan.

Sesungguhnya kurang baik, jika sebuah tim memperlakukan kompleksitasnya dengan input & output yang rigid, dipaksakan dengan pasti terkait caranya, ini akan berbahaya & jadi resep gagal. Dalam memahami kompleksitas sistem, bisa jadi solusi yang well-engineered sekalipun bisa jadi tak cukup & tak relevan.

Manusia adalah sosok pengoptimal bawaan, terbiasa mencari cara untuk memecah sistem menjadi komponen yang lebih kecil, memahami input mana yang menghasilkan output tertinggi. Proses ini bekerja sangat baik dengan sistem yang kompleks, tetapi jika makin mengoptimalkan komponennya, membuatnya makin rigid & kurang fleksibel maka akan lebih mudah terganggu & gagal.Jauh dari adaptif.

Theory of Change

Memastikan kebermanfaatan. Pastikan sebuah tujuan yang dicanangkan berupa kalimat yang menunjukkan sebuah kebermanfaatan🤩

Dalam teori perubahan, tahapannya terdiri dari 1) Perumusan Masalah, 2) Input, 3) Kegiatan, 4) Output, 5) Outcomes & 6) Impact. Pastikan setiap kegiatan yang dilakukan mengarah pada Outcomes, bahasa lainnya adalah kebermanfaatan. Sesuatu yang bermanfaat akan mendatangkan dampak, dampak yang dihasilkan dari proses yang baik akan medatangkan keberlanjutan dikemudian hari🥁🥁

Kami sering menyebut outcomes sebagai tujuan yang perlu dicapai, kaya lainnya adalah manfaat (agar berkah)Jika sesuatu hal yang dilakukan bermanfaat, sudah dipastikan peluang keberkahananya jadi besar. Tapi mengapa masih berupa peluang? bukannya jika bermanfaat sudah pasti berkah?🤨

Dalam sebuah proses, memastikan tiap langkah proses dilakukan dengan baik sesuai dengan nilai-nilai integritas, menelusurinya dengan proses yang mindful, mengeksplorasinya dengan kesungguhan. Setiap prosesnya dipastikan baik, hingga probabilitas mencapai tujuan (keberkahan) meningkat😇

1. Jadikan outcomes sebagai tujuan, indikatornya menghasilkan kebermanfaatan. Jangan berhenti di output, karena indikator ini bisa mengelabui dengan angka-angka yang bias✔️
2. Menilai kinerja dengan ouput adalah sesuatu yang lazim, tapi memastikan mencapai outcomes adalah sesuatu yang beyond KPI. Sebuah perubahan perlu semangat beyond KPI✔️
3. Bisa saja kita mencapai output, namun tak mencapai kebermanfaatannya. Jika ini terjadi maka peluang terjadi kesia-siaan sangatlah besar, maka ini menimbulkan banyak ke-mubadziran✔️
5. Bisa juga kita mencapai output, tak peduli dengan prosesnya, maka ini akan menghasilkan keberuntungan (jika berhasil), percobaan selanjutnya belum tentu jadi lebih baik✔️
6. Sekedar mencapai output, tak menekuni proses maka rentan terjebak jalan pintas, yang dibutuhkan adalah akselerasi, bukan jalan pintas✔️
7. Keberkahan hadir karena sebuah inisiatif melahirkan kebermanfaatan, Ia juga hadir karena prosesnya dibangun baik, dilakukan dengan cara-cara yang etis & melakukan proses eksplorasi dengan niat yang tulus & keterbukaan✔️

Pastikan setiap hasil bermanfaat, yang lainnya mengikutinya🥳