The Paradoxes of Collaboration

Memang mudah berkata “Yok kita kolaborasi!”, Yok kita berinovasi!” Yuk bisa Yuk! Pada kenyataannya beragam paradoks muncul & perlu dikelola terutama gesekan pandangan pribadi & organisasinya tempat Ia bernaung

Paradox adalah sebuah situasi atau pernyataan yang bertentangan dengan logika atau intuisi umum. Ia bisa muncul ketika ada dua ide atau gagasan yang terlihat benar secara terpisah, tetapi ketika digabungkan, mereka menghasilkan hasil yang tidak masuk akal atau bertentangan dengan harapan.

Paradox sering kali merupakan sumber perdebatan, karena dapat memunculkan pertanyaan tentang sifat dasar realitas atau ketidakmungkinan sebuah situasi.

The Paradoxes of Collaboration adalah serangkaian paradoks yang menggambarkan tantangan dan kontradiksi yang muncul dalam kolaborasi antara individu atau kelompok yang bekerja bersama untuk mencapai tujuan yang sama.

Konsep ini menyatakan bahwa terdapat beberapa paradoks yang harus dihadapi dan diselesaikan ketika melakukan kolaborasi. Beberapa paradoks tersebut antara lain:

1. Paradoks kepercayaan🥳
Untuk dapat bekerja sama secara efektif, individu atau kelompok harus saling mempercayai, namun kepercayaan tersebut hanya dapat dibangun melalui interaksi & waktu yang cukup.

2. Paradoks otonomi🔑
Individu atau kelompok harus memiliki otonomi dalam membuat keputusan & bertindak, namun juga harus mengikuti aturan dan tujuan bersama.

3. Paradoks keterbukaan🎤
Individu atau kelompok harus terbuka untuk berbagi informasi dan pandangan mereka, namun juga harus merahasiakan informasi yang sensitif dan mempertahankan privasi.

4. Paradoks sumber daya💰
Kolaborasi memerlukan sumber daya yang cukup untuk berhasil, namun juga membagi sumber daya yang terbatas & menyeimbangkan kebutuhan masing-masing individu atau kelompok.

5. Paradoks identitas🤔
Individu atau kelompok harus mempertahankan identitas dan kepentingan mereka sendiri, namun juga harus mengidentifikasi dan mengintegrasikan kepentingan bersama.

Paradoks ini menggambarkan bahwa kolaborasi yang sukses perlu keseimbangan yang tepat antara kepentingan individu & tujuan bersama & kemampuan untuk mengatasi kontradiksi & tantangan yang muncul selama proses kolaborasi🎯

Memperkaya Solusi Kreatif Baru yang Kontekstual

Gimana caranya kita bisa memperkaya proses sebuah proses desain, terutama dalam menciptakan solusi?

Coba deh kerangka kerja yang dituliskan oleh Dev Patnaik dan Michael Barry yang memperkenalkan konsep empat kuadran yang dapat membantu dalam memahami pendekatan pemikiran yang berbeda-beda :

✔️Kuadran Konkret-Analitis: Pemikiran konkret-analitis lebih condong pada penggunaan logika dan data konkret untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan. Pendekatan ini biasanya didukung oleh pengumpulan data, analisis, dan fakta yang akurat. Lakukan OBSERVASI pada tahap ini.

✔️Kuadran Sintesa-Abstrak: Pemikiran Analisa-abstrak biasanya terfokus pada detail dan fakta, tetapi juga mempertimbangkan pandangan yang lebih luas dan abstrak. Pendekatan ini mungkin memperhatikan keunikan atau sisi artistik dari suatu masalah.

✔️Kuadran Abstrak-Analitis: Pemikiran abstrak-analitis lebih condong pada pendekatan analitis, tetapi dengan menggunakan pandangan yang lebih luas dan filosofis. Pendekatan ini dapat melihat masalah dalam konteks yang lebih luas atau mempertimbangkan nilai-nilai etika atau moral dalam pengambilan keputusan. Cari INSIGHT baru pada tahap ini.

✔️Kuadran Konkret-Sintetis: Pemikiran konkret-sintesa mencakup pemikiran kreatif dan inovatif dalam mencari solusi. Pendekatan ini mungkin mempertimbangkan ide-ide baru dan pandangan yang berbeda dalam mencari solusi. Segerakan bikin solusi dengan iterasi-iterasi awal pada kuadran ini dan validasi.

Gunakan keempatnya dan dilakukan secara iteratif yaa, agar mendapatkan beragam solusi yang lebih baik dalam prosesnya🧐

Dengan memahami empat kuadran ini, kita sebagai perancang bisa mengembangkan solusi yang lebih komprehensif dan holistik dengan mempertimbangkan berbagai pendekatan pemikiran yang berbeda-beda menjadi sebuah solusi kreatif baru yang kontekstual.

Boleh dicoba nih🚀
Btw, kapan nih ketemuan kita diskusi bareng?

Ecosystem Design dalam Design Thinking

Bagaimana pemahaman ecosystem design dalam design thinking?

adalah konsep yang fokus pada pembuatan sistem / lingkungan berkelanjutan & dapat mendukung interaksi yang kompleks antara berbagai elemen dalam sebuah sistem.

Dalam konteks desain, ecosystem design digunakan untuk membangun lingkungan yang lebih baik untuk pengguna & produk, mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi dari penggunaan produk & layanan terhadap lingkungan & masyarakat sekitarnya.

Konsep ini juga mengarah pada mempertimbangkan dampak yang lebih luas pada seluruh ekosistem, seperti keseimbangan alam, sosial, dan ekonomi.

Pemahamantentang ecosystem membantu para desainer untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari produk / layanan yang mereka rancang & menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan, mengurangi dampak lingkungan yang tidak diinginkan & memperkuat interaksi antara manusia, teknologi & lingkungan.

Salah satu yang cukup intens membahas terkait ini adalah Michael Lewrick, salah satu bukunya dalam bukunya “The Design Thinking Playbook: Mindful Digital Transformation of Teams, Products, Services, Businesses & Ecosystems” mengemukakan bahwa business growth dapat dicapai melalui pendekatan design thinking yang berfokus pada pengembangan inovasi secara sistematis & berkelanjutan.

Business growth terjadi ketika suatu perusahaan mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi pelanggan & lingkungannya dengan cara yang lebih efektif & efisien dibandingkan dengan pesaingnya.

Untuk mencapai hal ini,berfokus pada 4 faktor utama;

✔️Value proposition: mampu menawarkan nilai tambah yang unik yang berbeda dari pesaingnya, dengan memahami kebutuhan & keinginan pelanggan.

✔️Business model: memiliki model bisnis yang berkelanjutan & menguntungkan secara finansial, dengan mempertimbangkan bagaimana menghasilkan pendapatan & mengelola biaya.

✔️Inovasi:terus berinovasi & mengembangkan produk, layanan & proses bisnis baru untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar yang berubah

✔️Ekosistem: harus membangun ekosistem yang kuat dengan melibatkan beragam mitra bahkan bisa jadi pesaingnya.

Yok bareng2 bikin kuat ekosistem bersama yok!

Menjadi Organisasi Pembelajar

Biar organisasi kamu jadi organisasi pembelajar, salah satu kerangka yang jadi favorit kami adalah Johari Window yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana persepsi diri dan persepsi orang lain dapat mempengaruhi hubungan interpersonal🥳

Konsep ini bermanfaat bagi organisasi pembelajar karena membantu individu dalam kelompok untuk memahami kondisinya & membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik🚀

Dengan memahami area- area terbuka (open), yang diketahui oleh diri sendiri & orang lain, serta area yang dirahasiakan (hidden) / tidak diketahui (unknown), individu dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Hal ini dapat membantu mereka untuk meningkatkan keterampilan interpersonal & memperbaiki hubungan kerjanya🤝

Bisa juga membantu organisasi dalam menciptakan lingkungan yang lebih terbuka, kolaboratif & efektif, serta membantu individu dalam kelompok untuk meningkatkan keterampilan interpersonalnya & mengembangkan diri secara profesional.

Gimana cara menerapkanya?🤔

✔️Self-assessment: Lakukan evaluasi diri secara objektif & jujur ​​tentang keterampilan & perilaku kita. Identifikasi area di mana kita merasa percaya diri & keahlian, serta area yang mungkin perlu ditingkatkan.

✔️Bicara dengan orang lain: Ajak teman, rekan kerja / atasan untuk memberikan umpan balik tentang perilaku, keahlian, & keterampilan kamu. Kita akan memperoleh persepsi orang lain tentang diri kita, termasuk apa yang mereka anggap sebagai kekuatan kita dan di mana Anda dapat berkembang.

✔️Menerima umpan balik dengan lapang dada & tanpa membenarkan atau membela diri. Dengarkan dengan seksama apa yang orang lain katakan tentang kita & coba untuk memahami sudut pandang mereka.

✔️Membuka diri: Bagikan informasi tentang diri kita dengan kelompok kerja yang akan membantu memperluas area terbuka (open) pada jendela Johari & mencipta lingkungan kerja yang lebih terbuka & saling percaya.

✔️Memperbaiki diri: Gunakan informasi dari proses Johari Window untuk meningkatkan diri. Fokus pada pengembangan keterampilan / perilaku yang perlu ditingkatkan & manfaatkan kekuatannaya untuk memperoleh hasil jadi lebih baik.🫡

Selamat berproses🤗

Business Thinking & Design Thinking

Business thinking dan design thinking adalah dua pendekatan yang berbeda dalam memecahkan masalah dan mengembangkan ide.

✔️Business thinking fokus pada pengembangan dan pertumbuhan bisnis dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti biaya, keuntungan, dan pasar.

✔️Sedangkan design thinking fokus pada pemahaman mendalam tentang pengguna dan menemukan solusi kreatif yang menyelesaikan masalah pengguna dengan cara yang efektif.

Bedanya antara business thinking dan design thinking adalah:

✔️Tujuan utama: Business thinking bertujuan untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan bisnis, sedangkan design thinking bertujuan untuk menciptakan solusi inovatif untuk masalah pengguna.

✔️Proses yang digunakan: Business thinking menggunakan metode analisis data dan strategi bisnis untuk mengembangkan dan mengoptimalkan bisnis, sedangkan design thinking menggunakan pendekatan empiris untuk mengembangkan solusi kreatif untuk masalah pengguna.

✔️Fokus pada pengguna : Design thinking memprioritaskan kebutuhan pengguna dan berusaha memahami perspektif mereka secara mendalam, sementara business thinking lebih berfokus pada kepentingan bisnis.

✔️Pembuatan keputusan : Business thinking mengutamakan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data dan strategi bisnis, sementara design thinking lebih mengutamakan pengambilan keputusan yang didasarkan pada pemahaman mendalam tentang pengguna dan berfokus pada solusi kreatif dan inovatif.

✔️Orientasi waktu : Business thinking lebih berorientasi pada jangka pendek, sementara design thinking lebih berorientasi pada jangka panjang dan keberlanjutan solusi.

Pastikan keduanya berjalan beriringan, business thinking maupun design thinking dapat saling melengkapi dalam pengembangan bisnis dan pengembangan produk yang sukses.

Keduanya bisa digunakan bersama-sama untuk mencapai tujuan yang lebih baik dan menciptakan solusi yang lebih inovatif. Ayoo latih lagi skillnya! #tleecosociopreneur

“Disciplined Entrepreneurship : 24 Steps to a Successful Startup”

Dalam buku “Disciplined Entrepreneurship : 24 Steps to a Successful Startup” Bill Aulet diterbitkan oleh Wiley pada tahun 2013. Dia adalah seorang pengusaha dan pengajar di MIT Sloan School of Management, di mana ia mengepalai Martin Trust Center for MIT Entrepreneurship. Konsepnya masih cukup relevan karena menyangkut fundamental penting, yuk disimak apa aja?

Konsep ini menekankan pentingnya penggunaan disiplin dan pendekatan sistematis untuk mencapai kesuksesan dalam bisnis startup. Setiap langkahnya penting dipelajari dan dijalankan dengan seksama untuk memastikan bahwa bisnis startup dapat berjalan dengan efektif dan efisien serta memenuhi kebutuhan pelanggan.

24 langkah atau tahap yang harus dilakukan & memiliki pemahaman yang jelas tentang model bisnis dan pelanggan yang ingin dilayani, serta mampu mengambil keputusan yang tepat dan efektif dalam menghadapi tantangan yang dihadapi oleh bisnis startup.

1. Mengidentifikasi peluang:
2. Memahami pelanggan:
3. Memvalidasi pelanggan:
4. Membangun model bisnis:
5. Mengembangkan produk:
6. Mengukur kemajuan:
7. Menetapkan tujuan:
8. Mengidentifikasi sumber daya:
9. Mengelola risiko:
10. Membangun tim:
11. Mengembangkan strategi pemasaran:
12. Mengembangkan strategi penjualan:
13. Menentukan harga:
14. Mengembangkan keunggulan bersaing:
15. Memahami lingkungan bisnis:
16. Membangun rencana operasional:
17. Mengembangkan strategi pertumbuhan:
18. Mengembangkan model keuangan:
19. Membangun rencana bisnis:
20. Mengembangkan strategi branding:
21. Mempersiapkan untuk pengambilan keputusan:
22. Mengelola operasi bisnis:
23. Memantau dan mengevaluasi kemajuan:
24. Melakukan iterasi dan pembelajaran:

Peernya banyak yaa! Nah mana kira-kira dari ke 24 poin diatas yang paling menantang buat kamu?

Social Learning

Social learning adalah konsep psikologi yang merujuk pada cara belajar dari lingkungan sosialnya, terutama dari pengaruh orang lain dalam lingkungan sosialnya. Teori social learning Albert Bandura, dikenal sebagai teori belajar sosial-cognitive.

Belajar terjadi melalui interaksi sosial, pengamatan & panutan pengaruh dari lingkungannya, mencakup pengaruh dari orang-orang yang kita pandang sebagai model, seperti orangtua, teman sebaya, tokoh publik / bahkan karakter di media massa seperti televisi/film.

Salah satu konsep utamanya adalah “self-efficacy”, yakni keyakinan individu dalam kemampuannya untuk menyelesaikan tugas / mengatasi tantangan, self-efficacy bisa dipengaruhi oleh pengalaman pribadi, pengamatan orang lain & respons dari lingkungannya. Orang dengan tingkat self-efficacy yang lebih tinggi cenderung lebih termotivasi & berhasil dalam mencapai tujuannya.

Teori social learning Bandura bisa punya beberapa implikasi yang relevan dengan kreativitas. Salah satunya adalah model-model yang diobservasi oleh individu & pengaruh contoh2nya pada kreativitas individu-individu disekelilingnya.

Menurut Bandura, seseorang cenderung meniru perilaku yang diamati dari model yang dianggap kompeten, kuat, atau bernilai dalam konteks tertentu. Dalam hal ini, individu bisa meniru kreativitas dari contoh2 yang dianggap kreatif & sukses dalam konteks tertentu, ini membantu meningkatkan kreativitas individu dalam konteks yang sama.

Dalam teori social learning ini juga menekankan pentingnya respons dari lingkungan terhadap perilaku individu. Ketika lingkungan memberikan umpan balik positif terhadap perilaku kreatif, individu cenderung merasa lebih termotivasi & untuk mengembangkan & mengekspresikan kreativitasnya & membantu meningkatkan kreativitas dalam jangka panjang.

Coba deh kamu pake social learning di komunitas kamu dalam mengembangkan keterampilan kreatif anggotanya. Tiap orang bisa jadi model yang efektif dalam memperkenalkan kreativitas & memberikan umpan balik positif untuk meningkatkan kreativitas ekosistem. Selain itu, tiap simpulnya juga bisa memfasilitasi pengalaman belajar yang memungkinkan anggotanya mengamati & meniru kreativitas dari model-model lain.

Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Jangan hanya sekedar berpendidikan, karena yang terdidik belum tentu kemudian jadi pembelajar. Jadi ingat pembicaraan dengan sahabat saya, “kita belajar bukan untuk jadi pintar, tapi biar engga bego, Dwi!” Ungkapan terdengar shocking pasa mulanya, tapi ini semacam tamparan yang mengingatkan agar kita tetap relevan dengan jaman dan kondisinya, mau jadi pembelajar sepanjang hayat.

Kalimat menampar seperti “Sekolah biar ngga bego! bukan buat pintar” diungkapkan seorang teman, sahabat baik saya, sosok yang gemar sekali bersekolah. Kalimat ini begitu membekas, jadi selalu teringat mengapa kita perlu belajar?

Belajar bukan untuk menjadi pintar, tetapi justru agar kita tak menjadi bodoh! Adalah ungkapan yang penting, bahwa kecintaan belajar sepanjang hayat adalah untuk menjaga kita tetap relevan, adaptif dan tau tujuan kedepan dengan pasti. Tidak sebatas pada batasan-batasan gelar akademik yang menyatakan bahwa saya pernah bersekolah, tapi dari situlah bermula kemampuan pembelajar sepanjanghayatnya dikuatkan.

QS. Al-Baqarah Ayat 67; Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya, “Allah memerintahkan kamu agar menyembelih seekor sapi betina.” Mereka bertanya, “Apakah engkau akan menjadikan kami sebagai ejekan?” Dia (Musa) menjawab, “Aku berlindung kepada Allah agar tidak termasuk orang-orang yang bodoh.”

Tag sahabat terbaik @putiretno_

Apa itu Outcome Bias?

Tau ngga, ternyata kita sering kali terjebak dan merasa berproses dengan baik karena melihat hasilnya baik. Lebih fokus dengan hasil ketimbang prosesnya, hal semacam ini disebut sebagai Outcome Bias🧐

Outcome bias adalah kecenderungan kita untuk menilai seseorang atau suatu keputusan berdasarkan hasil daripada melihat prosesnya. Bias ini menunjukan kegagalan kita dalam memperhitungkan begitu banyak hal yang random terjadi dalam prosesnya menciptakan hasil🤨

Dalam keseharian kita juga sering menilai keseluruhan proses hanya dari outcomenya, bukan dari kualitas prosesnya itu sendiri. Pada umumnya orang kesulitan memisahkan kualitas dari sebuah proses dengan outcomes prosesnya🥳

Jika outcomes / keberhasilan dihasilkan dari sebuah keberuntungan (meski hal ini berulang-ulang terjadi) yang terjadi dari pengambilan keputusan yang beresiko, walau hasilnya baik sangat mungkin saja ini terjadi karena terjadinya Outcomes Bias. Seringkali hasil yang baik membutakan kita terhadap kekurangan sebuah proses, bahkan bisa jadi lebih buruk bisa membuat kita tak kunjung belajar dari kesalahan, karena kita pikir semuanya baik-baik saja.🥸

Jika kita mengamati kesuksesan dari sebuah hasil, kecenderungan yang terjadi pada kita biasanya adalah menerimanya keberhasilannya begitu saja dan berasumsi bahwa proses yang mengarah ke sana pada dasarnya sehat-sehat saja. Coba kita lihat contoh yang sering terjadi dalam keseharian kita, apa saja contoh dari Outcome Bias;

1. Belajar mepet, ternyata nilainya bagus!
2. Beli saham sebelum harga naik, wah saya memang investor yang baik!
3. Walau terburu-buru, saya sampai tepat pada waktu! Saya memang keren!
4. Sekalinya pasang iklan, Produk laku banget!

Inget lagi, keberhasilan memang sering kali mengelabui kita, karena menyembunyikan titik-titik kurang baik dalam prosesnya. “Good Outcomes Hide Bad Processes” Pastikan lagi bahwa setiap hasil dari sebuah produk dan keberhasilan adalah benar-benar diperoleh dari proses pengembilan keputusan yang benar, prosesnya juga dikawal dengan sungguh-sungguh🤩

Complicated Vs Complex

Sesuatu yang rumit dapat dibagi menjadi dua, kompleks dan complicated. Jika dianalogikan sesuatu yang kompleks bisa digambarkan dengan contoh

1. Bubur ngga diaduk – complex;
Bubur dengan condiment yang terpisah.

2. Bubur diaduk – complicated;
Sedangkan kondisi yang complicated bisa digambarkan dengan bubur diaduk, dimana segala sesuatunya sudah tercampur dan sulit menguraikannya kembali menjadi komponen-komponen dasarnya🥳

Menjadi kompleks itu baik, tidak ada yang salah. Apalagi di jaman digital ini dimana segala hal dapat terhubung segala sesuatu menjadi kompleks, termasuk permasalahannya. Dalam sesuatu yang kompleks, pendekatan penyelesaiannya bisa diurai.

Bubur yang tidak diaduk akan jauh lebih mudah dan cepat menguraikan bahan penyusunnya satu per satu. Namun, jika kita terburu-buru melakukan beragam hal dengan mencapur adukkan segala elemen-elemennya tanpa berpikir panjang, kemungkinan besar masalahnya menjadi complicated, akan menjadi sulit terurai, jikapun bisa akan memakan waktu yang sangat lama😫

Jangan terburu-buru melakukan proses pengambilan keputusan, pastikan unsur-unsur pendukungnya tetap menjadi hal yang kompleks, jangan juga dicampur adukkan hingga menjadi sesuatu yang complicated.

Memang kita sering merasa tak sabar menyelesaikan sebuah permasalahan, namun justru dengan ketergesaan, tidak bekesadaran (mindful) dalam proses mengurainya membuat segala sesuatu jadi tambah runyam, complicated😫

Sesuatu yang kompleks, akan sangat baik jika kita pandai mengelolanya, setidaknya kita belajar mengelolanya. Pengelolaan yang tepat akan menghadirkan sesuatu yang kompleks menjadi kemajuan yang eksponesial. Namun sebaliknya, ketergesaan dan mencampuradukkan beragam komponen dalam sesuatu yang kompleks akan berujung pada complicated, menjauh dari solusi 🤯

Apa yang kita lakukan jika sesuatu hal kadang beranjak jadi complecated? tarik garis waktu lebih panjang, urai satu persatu dengan telaten, selesaikan satu persatu dengan mindful, berkesadaran penuh hingga satu persatu menghasilkan wisdom yang membawa pada solusi yang utuh🚀🚀