
Ada yang unik sekaligus mengusik dalam keseharian kami di dunia akademik. Rapat dengan sekumpulan individu bergelar tinggi, semua dengan jam terbang riset panjang, sering berakhir dengan keputusan yang paling aman, paling tidak mengusik kontribusi siapa pun. Ini jarang sekali menyangkut tentang kepintaran. Lebih sering, kepintaran itu butuh ruang yang pas untuk benar-benar bertemu, bukan sekadar duduk bersebelahan di satu meja.

Sekumpulan orang pintar nggak otomatis jadi tim yang cerdas. Satu tambah satu tambah satu yang masing-masing jalan sendiri, hasilnya tetap tiga. Kalau saling terhubung, hasilnya bisa lebih dari itu. Pola yang sering muncul tanpa disadari adalah gaya masinis, arah ditentukan dari atas, semua fokus menjalankan instruksi dengan baik. Ini bukan soal niat buruk, cuma kebiasaan lama yang mengutamakan ketertiban. Rapat jadi tertib, semua mendengarkan dengan baik, tapi ide-ide segar dari individu yang paling memahami persoalan di lapangan kadang belum dapat ruang yang cukup untuk benar-benar didengar.

Pergeseran yang menarik untuk dicoba adalah dari gaya masinis ke gaya tukang kebun, dari mengarahkan semua hal ke menciptakan kondisi supaya ide terbaik bisa tumbuh dari mana saja. Dalam tim akademik yang sehat, perdebatan soal arah sebuah program justru jadi tanda kepercayaan, bukan ancaman.

Begitu keputusan diambil bersama, semua bisa melangkah lebih yakin, karena keputusan itu terasa milik bersama, bukan titipan dari atas. Ada satu kalimat sederhana yang, kalau diucapkan pemimpin, bisa mengubah suasana sebuah ruangan: “Mari kita cari jawabannya bersama.

Otoritas seorang pemimpin tidak akan berkurang kalau ia berani mengakui belum punya semua jawaban. Justru di titik itu, kepercayaan biasanya tumbuh lebih dalam. Saya sendiri masih terus belajar soal ini, bagaimana caranya kehadiran saya di rapat-rapat kampus bisa membuat kolega makin nyaman untuk berpikir bebas, bukan cuma menjawab dengan aman.













No comment yet, add your voice below!