
Setiap Idul Adha, kita sibuk dengan teknis: hewan apa, berapa kilo, siapa dapat bagian mana. Wajar. Tapi ada yang lebih besar dari semua itu, yang justru kita lewatkan karena terlalu sibuk merayakannya. Kisah Nabi Ibrahim alaihi salam bukan dongeng lama. Ia blueprint ketahanan mental yang masih relevan untuk siapa pun yang hidupnya penuh tekanan dan pilihan tanpa jawaban mudah. Yang menarik: kisah ini tidak dimulai dari kemenangan. Ia dimulai dari situasi yang kelihatannya tidak masuk akal sama sekali.

Bayangkan: Hajar ditinggal di lembah tanpa air, tanpa tanaman, tanpa tetangga. Tidak ada sinyal. Tidak ada plan B. Ia bertanya tiga kali. Tidak dijawab. Baru saat ia tanya, “Apakah ini perintah Allah?”, Nabi Ibrahim alaihi salam jawab satu kata: “Bala.” Iya. Hajar tidak butuh penjelasan panjang. Cukup tahu ini perintah Tuhan, ia langsung bisa melangkah. Kita hari ini punya banyak hal, data, opsi, grup diskusi, tapi makin susah mengambil keputusan karena takut salah. Hajar punya nol opsi, dan justru paling tenang.

Nabi Ibrahim alaihi salam menunggu 86 tahun untuk seorang anak. Lalu diperintahkan menyembelihnya. Ini bukan kisah kekerasan. Ini tentang sesuatu yang lebih susah diakui: kita sering terlalu takut kehilangan sesuatu yang kita cintai sampai hal itu pelan-pelan jadi yang paling mengendalikan kita. Kita semua punya “Ismail” masing-masing, cuma bentuknya beda. Ada yang berupa jabatan yang tidak berani dilepas meski sudah tidak cocok. Ada yang berupa reputasi yang dijaga sampai lupa tujuan awalnya. Nabi Ibrahim alaihi salam tidak diminta membunuh Ismail. Ia diminta melepas cengkeraman atas Ismail. Itu yang berbeda.

Kurban menggerakkan ekonomi peternak di pelosok yang tidak pernah masuk berita. Itu nyata dan sering kita sepelekan. Tapi pelajaran paling praktis dari Idul Adha bukan cuma soal itu. Kita perlu jujur: apa yang kita sebut aset hari ini, sebagian mungkin cuma hal yang kita takut lepaskan, bukan karena nilainya, tapi karena sudah terlanjur melekat. Nabi Ibrahim alaihi salam mengajarkan bahwa rasa takut kehilangan itu bisa dilatih. Dan kalau belum dilatih, kita akan terus berhenti tepat sebelum hal penting terjadi.
















No comment yet, add your voice below!