
Katakanlah Raka lulus IPK 3,7. Aktif organisasi. Skripsi tepat waktu. Enam bulan kemudian masih nganggur. Bukan malas. Bukan tidak mau coba. Ia kirim lamaran ke mana-mana. Tapi yang ia kuasai tidak cukup menjawab apa yang dunia tanyakan. Raka bukan kasus langka. Ia pola. Terjadi setiap tahun, di hampir semua kampus, dengan nama yang berbeda-beda.

Indonesia punya lebih banyak anak muda dari hampir semua negara. Tapi banyak tidak otomatis siap. 65% pekerjaan yang akan mereka masuki belum ada namanya hari ini. Kita mendidik mereka untuk dunia yang kita sendiri tidak tahu bentuknya, dengan kurikulum yang kita susun berdasarkan dunia yang sudah lewat. Bukan salah siapa-siapa secara khusus. Tapi tanggung jawab semua orang yang ada di ruang-ruang perancangan kurikulum itu.

Backward design mulai dari pertanyaan yang berbeda. Bukan mata kuliah apa yang perlu ada. Tapi Raka yang seperti apa yang ingin kita hasilkan. Seseorang yang bisa belajar ulang ketika pekerjaannya hilang. Yang tetap bisa berpikir jernih ketika situasinya tidak jelas. Yang tidak ikut-ikutan ketika tren berganti dan tekanan datang. Kalau gambaran manusia itu jelas sejak awal, semua yang mengikutinya, cara mengajar, pengalaman belajar, cara menilai, akan punya arah yang berbeda. Dan Raka yang keluar dari kampus akan punya bekal yang berbeda.

Kita tidak kekurangan anak muda yang mau berjuang. Raka mau. Jutaan Raka lainnya juga mau. Yang kadang tidak sebanding adalah sistem yang seharusnya menyiapkan mereka. Bonus demografi ini nyata dan momentumnya tidak akan terulang. Tapi ia tidak bekerja otomatis. Ia butuh satu keputusan sederhana yang dimulai jauh sebelum hari wisuda, yaitu merancang bukan untuk kelulusan, tapi untuk kehidupan yang menunggu setelahnya.✨
















No comment yet, add your voice below!