
Ada pejabat yang dulu paling tahu nama warganya. Ada manajer yang dulu paling sering duduk di kantin bersama timnya. Ada ketua komunitas yang dulu telepon duluan sebelum ada yang minta tolong. Lalu mereka naik. Dapat kursi. Dapat ruangan sendiri. Dan perlahan, tanpa satu pun keputusan sadar untuk berubah, mereka mulai bicara tentang orang-orang itu seperti membicarakan variabel dalam persamaan✨

Tidak ada momen dramatis di mana seseorang memilih berhenti peduli. Yang terjadi jauh lebih halus. Informasi yang sampai mulai tersaring. Orang di sekitar mulai memilih kata dengan hati-hati. Keluhan diformat ulang menjadi laporan yang sudah rapi sebelum menyentuh meja mereka. Psikolog Dacher Keltner menyebutnya power paradox: kita mendapat kekuasaan karena empati, lalu kekuasaan itu sendiri yang menggerusnya. Yang berubah bukan niatnya. Yang berubah adalah apa yang tidak pernah sampai💔

Ini bukan hanya soal pemerintah. CEO yang tidak lagi tahu nama karyawan di lantai paling bawah. Dosen yang lupa rasanya takut salah menjawab di depan orang yang memegang nilai kita. Dokter yang menjelaskan dengan bahasa yang hanya ia mengerti, kepada pasien yang terlalu takut bilang “saya tidak paham.” Investor yang memutuskan nasib puluhan orang dari angka di spreadsheet, tanpa pernah tahu satu pun cerita di baliknya. Bukan kejahatan. Ini jarak. Jarak yang tumbuh diam-diam, dan tidak ada yang merancang sistem untuk menahannya😕

Kita sibuk menilai karakternya. Tapi hampir tidak pernah bertanya: apakah sistemnya memberinya cara untuk tetap tahu? Tidak ada evaluasi yang mengukur apakah pemimpin masih bisa mendengar. Yang ada hanya laporan ke atas, bukan suara dari bawah. Kekuasaan tidak perlu membuat seseorang jahat untuk menjadi berbahaya. Cukup membuatnya lupa. Dan sistem yang baik bukan yang berharap pemimpinnya selalu ingat, tapi yang tidak memberi ruang bagi mereka untuk lupa✍️

















No comment yet, add your voice below!