Setiap wisuda, kampus mengumumkan angka. Sekian persen lulus tepat waktu. Sekian persen IPK di atas tiga koma. Seremoni berjalan khidmat, spanduk terbentang, orang tua berfoto bangga. Dan tahun depan, siklus yang sama berulang🙌

Yang tidak masuk ke dalam angka itu: berapa banyak dari mereka yang, enam bulan kemudian, berdiri di depan dunia nyata dan merasa tidak tahu harus mulai dari mana. Bukan karena bodoh. Tapi karena empat tahun belajar lebih banyak melatih mereka menjawab tanpa secara cermat mendampingi perkembangan kemampuan berpikir kritisnya.

Sementara di luar, ekonomi sedang tidak murah hati. Industri menyerap lebih sedikit dari yang dijanjikan, AI berlari cepat dan pasti, mulai mengerjakan hal-hal yang dulu disebut kompetensi. Lapangan kerja yang ada pun bergeser jauh lebih cepat dari kurikulum yang bisa mengejarnya.

Di sinilah masalahnya bukan soal individu yang kurang keras belajar. Masalahnya adalah sistem yang mengukur keberhasilan dari hal yang mudah diukur, waktu dan nilai, bukan dari hal yang penting: apakah seseorang mampu membaca situasi yang belum punya nama, merumuskan pertanyaan yang tepat, dan berpikir ketika tidak ada kunci jawaban. Persoalan nyata tidak datang dalam format pilihan ganda. Ia datang ambigu, berlapis, dan tidak sabar.✍️

Dunia tidak sedang kekurangan sarjana. Yang langka adalah mereka yang tahan bukan karena hafal banyak, tapi karena bisa belajar ulang dengan cepat. Di era ketika AI bisa menggantikan kompetensi teknis dalam hitungan bulan, yang tersisa sebagai keunggulan manusia adalah cara berpikir, bukan isi kepala. Jika pendidikan tinggi belum serius menjawab itu, maka yang kita rayakan setiap wisuda bukan keberhasilan melainkan kebiasaan🧐

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *