Kita hidup di zaman yang terlihat produktif, tetapi diam-diam melelahkan banyak orang. Pagi dimulai dengan target, malam ditutup kecemasan soal tagihan dan masa depan. Kita diajarkan bahwa gelar, kerja keras, dan karier yang rapi pasti berujung pada kesejahteraan.

Namun realitas sering bergerak di luar logika itu. Ada sarjana yang hidupnya terseok-seok, sementara ada orang yang tak terlalu “akademis” justru lebih mapan. Akhirnya hidup berubah menjadi arena perbandingan. Media sosial membuat semua orang tampak berhasil, lalu tanpa sadar kita merasa gagal hanya karena tertinggal dari pencapaian orang lain.

Di tengah tekanan itu, jalan pintas mulai terlihat masuk akal. Pinjol, judol, flexing, sampai pekerjaan yang mengorbankan integritas perlahan dianggap normal selama menghasilkan uang. Sistem hari ini terlalu sering memuja hasil, tetapi abai pada ketenangan batin manusia.

Ironisnya, banyak orang terlihat kaya di luar, tetapi hidup dalam kecemasan yang tak pernah selesai. Mereka punya akses ke mana-mana, tetapi kehilangan tidur nyenyak. Kita terlalu lama mengira rezeki hanya soal nominal, padahal ada orang bergaji biasa yang hidupnya jauh lebih damai dibanding mereka yang rekeningnya penuh tetapi pikirannya kosong.

Mungkin karena itu, definisi “cukup” perlu disusun ulang. Bukan berarti berhenti berusaha, tetapi berhenti hidup dalam kepanikan yang terus dipelihara sistem. Sebab tidak semua hal bisa dipaksa dengan ambisi dan rasa takut. Ada yang datang karena kerja keras, ada pula yang tiba tepat ketika waktunya datang. Dan mungkin bentuk kekayaan paling langka hari ini bukan soal seberapa besar penghasilan seseorang, melainkan kemampuan untuk tetap tenang di dunia yang terus membuat manusia merasa kurang✨

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *