Kita Sibuk Mengisi Piring, Tapi Lupa Bertanya Kepada Siapa

Kita Sibuk Mengisi Piring, Tapi Lupa Bertanya Kepada Siapa

Dua minggu lalu saya diundang podcast bersama Dr. dr. Tauhid, dokter yang mendalami neurosains, dan Ibu Shelvi, ahli gizi klinis. Kami bicara tentang MBG. Yang paling membekas bukan debatnya, tapi betapa tiga disiplin berbeda sampai pada satu kesimpulan yang sama: sistem ini bergerak tanpa bertanya kepada siapa makanan itu sebenarnya diberikan.

Ibu Shelvi langsung ke akar. Kebutuhan gizi itu personal, ditentukan usia, kondisi, bahkan genomik tiap anak. Anak obesitas dan anak anemia tidak bisa diberi piring yang identik. Tapi sistem mencatatnya sebagai satu angka keberhasilan yang sama.

Masalah berikutnya lebih dalam. Anak makan junk food bukan karena bodoh, tapi karena ekosistem di sekitarnya cuma menyediakan itu paling mudah. Ketika intervensi datang tanpa menyentuh ekosistem itu, hasilnya seperti kasus dari Jawa Tengah yang Ibu Shelvi ceritakan: anak-anak anemia berat yang tidak merespons makanan bergizi apapun, bukan karena menunya salah, tapi karena cacing di perutnya mengonsumsi nutrisi lebih dulu. Solusi paling berdaya ungkit ternyata Pirantel Pamoat, bukan katering mahal.

Dr. Tauhid menutup dengan satu angka: 85% perkembangan otak selesai sebelum usia 5 tahun. Fondasi yang rapuh tidak bisa dipulihkan optimal, meski intervensi datang belakangan. Kita berlomba mengisi piring anak SD, sementara jendela biologis terpenting sudah menutup tanpa disadari. Dan 33.000 keracunan yang direspons dengan “hanya 0,005%” bukan kegagalan teknis, itu moral fallacy. Tanda bahwa sistem bergerak tanpa bertanya. MBG bisa jadi program terbaik yang pernah ada, tapi cuma kalau satu pertanyaan ini dijawab lebih dulu: untuk siapa?

Salah Diagnosis: Mengapa Pelatihan UMKM Sering Kali Tidak Membawa Hasil.

Saya bertemu 34 pelaku usaha. Tujuh puluh empat persen dari mereka menyatakan sangat siap ikut program intensif berbulan-bulan. Motivasi bukan masalah. Tapi 26 dari 34 sudah pernah ikut pelatihan, sebagian berkali-kali, dan skor kapasitas internal mereka masih tersebar dari 2 hingga 9 dari skala 10. Artinya ada yang hampir tidak punya sistem bisnis sama sekali, meski sudah pernah dilatih. 53% tidak punya satu pun cara menangani keluhan pelanggan tanpa turun tangan sendiri. 38% tidak punya cadangan kas satu bulan. Mereka mau belajar. Yang salah bukan orangnya.

Yang salah adalah diagnosisnya. Kita bertahun-tahun percaya masalah UMKM adalah soal pengetahuan, maka kita beri pelatihan keuangan, pemasaran, digital. Padahal kemampuan membaca keuangan tidak berkorelasi signifikan dengan omzet. Yang berpengaruh kuat justru hal yang jarang diajarkan: seberapa mandiri sistem bisnis dari kehadiran pemiliknya. Bisnis yang tidak bisa berjalan dua hari tanpa ownernya bukan bisnis yang kurang ilmu. Itu bisnis yang belum punya sistem.

Dan karena diagnosisnya salah, obatnya pun tidak nyambung. 38% dari mereka merasa sangat mengenal pelanggannya, tapi tidak pernah aktif meminta umpan balik. Mereka tahu siapa yang beli. Tapi hanya 17,6% yang bisa menjelaskan mengapa pelanggan itu memilih mereka. Situasi hidup apa yang mendorong keputusan itu. Apa yang sebenarnya ingin diselesaikan. Sisanya bergerak dari asumsi. Lalu dari asumsi itu mereka ikut pelatihan pemasaran. Dan kita dengan senang hati mengajarkannya.

Masalah UMKM bukan motivasi yang lemah atau literasi yang kurang. Masalahnya adalah sistem yang belum ada, pelanggan yang belum benar-benar dikenal, dan hambatan yang tidak datang satu per satu melainkan saling mengunci. Kalau diagnosisnya salah, solusi sebanyak apapun tidak akan mengubah banyak. Yang bertambah hanya satu: jumlah jam pelatihan dalam laporan.

Bukan kurang modal. Bukan sepi pembeli. Dari riset terhadap 34 UMKM, stagnasi hampir selalu berakar pada titik buta sistemik, sesuatu yang tidak terlihat karena bersembunyi tepat di dalam cara bisnis itu dijalankan sehari-hari. Masalahnya bukan pada orangnya. Yang perlu diperiksa adalah sistemnya. Dan sistem tidak bisa