Sering kali saya terbang ke pulau-pulau terluar Negeri ini dengan turboprop kecil. Deru baling-balingnya memanggil ingatan ke masa kecil. Sebab di era 90-an saya selalu terpapar mimpi besar Habibie, bahkan berulang kali mengunjungi IPTN di Bandung dan mengagumi karya-karya berteknologi sangat canggih ketika itu.

Di sana ada N-250. Turboprop pertama di dunia yang dikendalikan penuh secara fly-by-wire, teknologi yang waktu itu cuma ada di pesawat tempur dan jet besar. Buat anak muda yang jatuh cinta pada teknologi, itu memabukkan.

Butuh waktu lama buat saya paham bahwa yang dibangun Habibie sebetulnya bukan pesawat. Pesawat cuma wahana. Yang dia bangun adalah manusia. Ribuan anak bangsa dikirim belajar ke luar negeri, lalu ditempa langsung di hanggar, pada proyek berstandar tertinggi. Pesawatnya itu kelas, dan para insinyur muda itu muridnya.

Lalu krisis 1998 datang. Pendanaan disetop, IPTN runtuh, mimpi besar itu seperti patah di udara. Banyak yang menyebutnya kegagalan. Dan secara bisnis, memang iya.
Tapi ada yang tidak ikut runtuh. Orang-orangnya. Mereka pindah ke Boeing, ke Airbus, ke Embraer. Kapabilitas yang terbentuk tak bisa dimusnahkan krisis. Ironinya, yang kita anggap kegagalan justru jadi keuntungan buat industri pesawat dunia.

Saya belajar dua hal. Pertama, manusia adalah aset yang paling tahan guncangan. Mesin bisa rusak, institusi bisa bubar, tapi kapabilitas yang menempel pada manusia tetap hidup.

Kedua, dan ini yang pahit, membangun manusia hebat saja tidak cukup. Kalau tidak dibarengi ketahanan agar mereka tetap berkarya di rumah sendiri, kita cuma jadi tempat persemaian, dan orang lain yang memanen.

Hari ini ekonomi terasa berat lagi, dan bakat terbaik kembali melirik ke luar. Apakah kita sedang mengulang 1998? Maka bangunlah manusia, karena merekalah yang bertahan saat yang lain runtuh. Tapi bangun juga rumah yang cukup kuat untuk menahan mereka.

Kini, tiap turboprop yang saya tumpangi mendarat di pulau terpencil, saya teringat semua itu. Terima kasih, Pak Habibie

.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *