
Bisnis pertama? Gagal. Kedua? Gagal juga. Ketiga, keempat, kelima, semua tumbang. Pegawai jualan ayam kabur bawa stok dan uang. Partner konveksi kabur bawa duit klien. Mobil dijual, modal habis.

Tapi kalau sudah lima kali bangkrut, takut bangkrut keenam tidak masuk akal lagi. Itulah mental Anggi dan Uyul ketika mulai Imah Babaturan. Modal cuma Rp45 juta pinjam keluarga. Garasi 100 meter di Kebon Bibit Bandung. Tongseng kambing resep ibu mertua. Tanpa mindset workshop, tanpa coaching motivasi, cuma pasrah terus jalan.

Sepuluh tahun kemudian, antrian setiap hari, food vlogger datang tanpa diundang, komunitas tumbuh sendiri di warung. Bukan karena strategi sat-set ala startup. Murni pendekatan dapur.

Polanya muncul setelah berbulan-bulan diamati. Saya coba beri nama Lima bumbu dapur ala Imah Babaturan.
🧅 Bawang untuk yang sudah hidup: bisnis lahir bukan dari riset pasar, tapi dari tongseng yang sudah biasa dimasak di rumah, jauh sebelum berpikir itu bisa jadi bisnis.

🧂Garam untuk mengubah keterbatasan jadi cerita: dapur kecil jadi menu mingguan, meja madrasah roboh dari Cimahi jadi identitas brand, parkir penuh jadi voucher minum gratis dari Batos.
🌱 Sereh untuk modal pertemanan: dijaga puluhan tahun sampai komunitas tumbuh sendiri, bukan dari networking transaksional.
🫚 Jahe untuk memimpin dengan hati tapi tegas: pas COVID dengan 40 pegawai, tidak satupun dipecat, semua diberdayakan antar frozen food.
🌶️ Cabai untuk berani bilang tidak: investor mata duitan, franchise utuh, pinjaman bank, semua ditolak demi karakter warung sebagai rumah teman.
Di Negeri ini yang dipenuhi narasi scale-up dan unicorn, Imah Babaturan adalah anomali yang menyegarkan. Lebih relevan untuk anak muda yang merintis kecil-kecilan, ketimbang case study Y Combinator yang tiap bab bahas billion-dollar exit. Tidak butuh modal besar, ide revolusioner, atau background fancy.
Cuma butuh kesediaan melihat ke dapur sendiri, mengakui yang sudah hidup, menamai keterbatasan jadi narasi, merawat pertemanan tanpa agenda, memimpin dengan hati yang tegas, dan tahu kapan harus bilang nggak. Gimana dengan resep bisnis kamu?





No comment yet, add your voice below!