
Ada pertanyaan yang jarang kita ajukan secara serius: mengapa berobat di Malaysia lebih terjangkau daripada di negeri sendiri? Mengapa universitas negeri yang dibangun dengan dana publik justru terasa semakin jauh dari jangkauan publik itu sendiri? Jawaban yang lazim selalu berkisar pada inefisiensi atau korupsi. Padahal ada persoalan yang lebih mendasar: hampir seluruh institusi publik kita diposisikan sebagai unit penghasil pendapatan. Di saat itulah institusi yang seharusnya menjadi public enabler perlahan bertransformasi menjadi value extractor, dan masyarakat yang seharusnya dilayani berubah menjadi sumber penerimaan yang terus dioptimalkan.

Pergeseran ini tidak melahirkan pelaku yang dapat ditunjuk. Yang terjadi jauh lebih sistemik: absennya shared problem statement di antara seluruh aktor institusional. Masing-masing mengoptimalkan indikator kinerjanya sendiri tanpa ada yang mengikat mereka pada tujuan yang lebih besar. Rumah sakit mencapai target pendapatannya. Kampus mencapai target PNBP-nya. Birokrasi mencapai target retribusinya. Pada level mikro, semua terlihat berhasil. Namun pada level makro, sistem gagal menjawab satu pertanyaan mendasar: untuk siapa semua ini dibangun?

Di sinilah ecosystem thinking menjadi jawaban struktural. Negara-negara yang berhasil membangun layanan publik berkualitas tidak mencapainya melalui keunggulan anggaran semata. Malaysia dan Singapura berhasil karena seluruh aktornya bergerak dalam satu misi yang disepakati bersama, saling memperkuat, bukan saling memungut. Prinsip ini sejalan dengan nilai yang jauh lebih fundamental khairunnas anfa’uhum linnas, kemuliaan diukur dari seberapa dalam manfaat yang diberikan, bukan seberapa besar nilai yang diekstrak.

Tantangan sesungguhnya bukan pada keterbatasan sumber daya. Tantangan terbesar kita adalah keberanian untuk sepakat, sebagai institusi, sebagai sistem, sebagai bangsa, bahwa ada satu masalah yang harus dijawab bersama, dan masyarakat adalah alasan mengapa kita semua ada., berupaya dengan sungguh-sungguh berkontribusi bagi kesejahteraanya, bukan kita, tapi mereka (baca: masyarakat)




No comment yet, add your voice below!