The Hallways Space

Bayangkan kamu naik ke lantai dua pasar tradisional yang gelap dan berdebu. Minim sekali petunjuk arah. Minim papan nama. Hanya lorong panjang yang ujungnya tidak kelihatan. Itulah strategi pertama @thehallwayspace_ : biarkan orang nyasar. Yang mau menjelajah, yang penasaran, yang tidak takut tersesat, itulah orang yang mereka cari. Bahkan sebelum satu pun kios dibuka, kurasi sudah dimulai.

Empat anak muda masuk pada 2019 dengan modal Rp 20 juta. Patungan Rp 5 juta per orang. Bukan karena punya rencana bisnis yang sempurna, tapi karena mereka tidak tahan melihat lantai dua pasar itu dibiarkan mati selama dua dekade. Modal sesungguhnya mereka bukan uang. Tapi jaringan, kepercayaan, dan kemampuan membaca apa yang dibutuhkan komunitas kreatif Bandung yang saat itu belum punya rumah.

Hari ini lebih dari 30.000 orang datang setiap bulan. Sembilan penelitian akademik menjadikannya objek kajian. Dan banyak yang ingin meniru. Tapi yang bisa ditiru hanya tampilannya. Karena yang dibangun di The Hallway bukan tempat, tapi ekosistem. Dan ekosistem tidak bisa didekorasi, hanya bisa ditumbuhkan. Di dalamnya, keberhasilan satu tenant membuka jalan bagi yang lain. Pameran bukan sekadar event, ia mempertemukan orang-orang yang tanpanya tidak akan pernah saling kenal. Tenant yang tumbuh pesat justru didorong keluar untuk membuka usaha sendiri. Bukan karena tidak disayang, tapi karena ekosistem yang sehat memang meluncurkan anggotanya, bukan menahan mereka.

Di bawah lantai dua itu, pasar tradisional masih beroperasi. Pengunjung yang naik bisa turun lagi dan jajan di sana. Dua dunia, dua generasi, dua logika ekonomi, ternyata bisa saling menghidupi dalam satu bangunan yang sama. Aset terbesar The Hallway tidak tercatat di neraca mana pun. Bukan bangunannya, itu pun hanya sewaan. Melainkan reputasi yang dibangun bertahun-tahun: bahwa tempat ini tahu persis siapa yang boleh masuk, program apa yang layak dihadirkan, dan nilai apa yang tidak boleh dikompromikan demi pertumbuhan sekalipun.

Great spaces attract people, but strong ecosystems make them stay and grow. It’s not about filling spaces, it’s about connecting people.

Di Balik Bioeconomy: Siapa yang Benar-Benar Diuntungkan?

Di ujung sebuah desa di Kalimantan, seorang petani membakar sisa jerami setelah panen. Bukan karena ia tidak tahu jerami itu bisa bernilai, ia tahu benar. Tapi tidak ada yang pernah datang menjelaskan caranya, atau memberinya hak untuk ikut menentukan.

Di tempat lain, di kota besar, di pabrik, di pasar luar negeri, orang lain mengolah bahan serupa menjadi produk senilai puluhan kali lipat. Inilah wajah nyata bioeconomy hari ini: sistem yang bertumpu pada alam dan kerja komunitas lokal, tapi hampir seluruh nilainya mengalir ke tempat lain.

Bukan karena petani itu tidak mampu. Tapi karena sistem ini tidak pernah dirancang untuk memberinya tempat di meja untuk bersama merancangnya.

Humanity Centered Design, adalah upaya untuk mengubah mekanisme ini, dimulai dari satu pertanyaan: Untuk siapa sebenarnya sistem ini dirancang? Pendekatan ini dimulai dengan urutan yang berbeda. Biasanya dimulai dari peluang pasar atau target produksi & kemudian komunitas lokal masuk belakangan, sebagai penerima manfaat atau latar foto laporan.

Nah, framework ini beda, ia dimulai dari orang yang paling jarang didengar: petani yang tanahnya menjadi bahan baku, ibu-ibu pengolah hasil hutan, nelayan yang tahu perubahan laut lebih dini dari siapapun.

Dari sana, prosesnya menelusuri ke mana nilai mengalir dan di mana ia berhenti, untuk menemukan bukan sekadar apa yang perlu diperbaiki, tapi mengapa masalah yang sama terus kembali meski sudah ada regulasi dan investasi.

Dalam praktiknya, HCD++ menggeser tiga hal yang selama ini dianggap wajar.

1. Keberhasilan tidak lagi diukur dari besarnya produksi, tapi dari berapa banyak nilainya yang kembali ke komunitas sumber.
2. Keterlibatan komunitas tidak lagi berarti hadir dalam sosialisasi program yang sudah jadi, tapi ikut menyusunnya sejak awal.
3. Dan solusi tidak lagi dicari dengan mendorong angka naik, tapi memahami mengapa komunitas terus tertinggal di sistem yang tidak bisa berjalan tanpa mereka.

Petani di Kalimantan itu mungkin tidak pernah mendengar kata HCD++, Tapi kalau suatu hari ada yang datang menanyakan pendapatnya sebelum program dimulai, bukan sesudah, ia akan tahu bahwa sesuatu akan lebih baik🍓

Lets Co-create!

Hampers Lebaran @thelocalenablers

Hampers Lebaran @thelocalenablers

Kalau ditanya, hampir semua orang yakin rezeki sudah dijamin Allah. Tapi kalau dilihat cara kerjanya sehari-hari, penuh kecemasan soal target, proyek yang tidak pasti, karier yang terasa lambat. Kita percaya, tapi cara bergerak kita tidak mencerminkan keyakinan itu. Bukan soal kurangnya iman. Tapi keyakinan yang belum benar-benar masuk ke cara kita mengambil keputusan setiap hari.

Dari kegelisahan itulah WASILAH kami tulis. Bukan buku motivasi, bukan panduan cara dapat lebih banyak. Cuma satu hal yang ingin kami ingatkan kembali: manusia diciptakan untuk menjalankan peran, dan rezeki adalah konsekuensinya, bukan sebaliknya. Khalifah bukan gelar kehormatan. Itu deskripsi tugas yang sangat konkret: mengelola apa yang ada dalam jangkauan kita, dengan standar yang melampaui kepentingan pribadi. Masalah yang kita hadapi pun bukan ancaman — itu ruang di mana peran kita paling dibutuhkan.

Dampak yang bertahan bukan datang dari orang yang paling sering muncul, tapi dari orang yang paling bermakna bagi ekosistemnya. Kepercayaan yang dibangun di atas dampak nyata punya cara kerjanya sendiri, ia menarik peluang tanpa perlu diiklankan. Rezeki yang dikejar langsung cenderung selalu selangkah lebih jauh. Tapi rezeki yang datang karena peran dijalankan dengan baik, itu yang bertahan.
Hampir tidak ada orang yang kekurangan rezeki karena kurang bekerja keras. Yang lebih sering terjadi adalah kekurangan kejelasan tentang peran. Buku ini kami bagikan gratis di momen Idulfitri 1447 H untuk seluruh ekosistem TLE. Kalau ada satu kalimat yang membuat kamu berhenti sejenak dan mikir ulang cara kamu bekerja, tujuan buku ini sudah tercapai. Selamat Idulfitri. Taqabbalallahu minna wa minkum.

🔗 Download gratis di
https://ebook.designthinkingacademy.id/product/wasilah/

Kita Semua Dilatih Cari Kerja, Tapi Dunianya Udah Nggak Sama

Narasi mencari pekerjaan sebagai tujuan utama hidup makin kehilangan relevansinya. Bukan cuma karena bekerja tidak penting lagi, tetapi karena struktur penciptaan kerja itu sendiri sedang bergeser.

Kita dibesarkan dengan asumsi sederhana: belajar → lulus → mencari kerja → stabil. Hari ini, rantai itu mulai terputus. Banyak lulusan sudah menjalani semua “tahapan yang benar”kuliah, magang, kirim CV ke mana-mana, tapi tetap kesulitan menemukan pijakan. Bukan karena individu gagal, tetapi karena sistem yang dulu menopangnya tidak lagi bekerja dengan cara yang sama.

Negeri ini sedang menghadapi tekanan fiskal, disrupsi teknologi, dan ketidakpastian global yang nyata. Namun persoalannya lebih dalam dari itu. Kebijakan yang berorientasi jangka pendek, fragmentasi antar lembaga, dan siklus kekuasaan yang sempit membuat negara sulit hadir sebagai orkestrator penciptaan nilai. Akibatnya, lapangan kerja tumbuh secara sporadis, tidak pernah cukup untuk menampung gelombang lulusan baru setiap tahunnya.

Yang sebenarnya terjadi bukan sekadar “pekerjaan hilang”, tapi nilainya yang berpindah. Nilai ekonomi saat ini terkonsentrasi di platform, jaringan, dan ekosistem yang bisa mengorkestrasi solusi atas masalah nyata.

Yang dibutuhkan bukan lagi cuma sekadar tenaga kerja, tetapi kemampuan membaca masalah, menghubungkan aktor, dan menciptakan nilai dari kompleksitas. Strategi hidup bertahan para lulusan yang basisnya “mencari pekerjaan” menjadi sangat rentan justru karena bergantung pada struktur yang sedang ditinggalkan.

Maka yang perlu diubah bukan hanya strategi, tetapi cara berpikir. Dari “mencari kerja” menjadi “mengambil peran dalam menyelesaikan masalah.” Pertanyaannya bukan lagi “siapa yang mau menerima saya?”, tetapi “di mana saya bisa mulai memberi nilai?” Siapa saja yang mampu mengidentifikasi masalah nyata dan menawarkan solusi yang terbukti dan bermanfaat, pada akhirnya akan menciptakan ruang kerjanya sendiri. Dalam dunia yang semakin kompleks, pekerjaan bukan lagi titik awal, melainkan konsekuensi dari kontribusi nyata yang bermanfaat🙌.