Konsisten dalam Proses Review dan Retrospective

Kesungguhan berikhtiar, istiqomah dan bersyukur selama proses adalah kunci keberhasilan, karena justru di sinilah letak paling paling rawan dimana banyak kegagalan terjadi.

Proses-proses eksperimental yang iteratif membuahkan banyak hikmah dalam mewujudkan sebuah keberhasilan yang by-design🤩

Dalam Agile-Scrum justru semangat konsistensi inilah yang dibangun, memelihara mimpi dengan proses kongkret berorientasi hasil, mengutamakan outcomes hingga memastikan keberhasilannya🤝 prosesnya bersamaan dengan melatih tim agar punya nilai, kualitas dan kapasitas yang lebih baik.

Ritual-ritual daily, weeky atau per sprintnya dalam kerangka kerja Agile Scrum bukan hanya berfungsi untuk memonitor sejauh mana pekerjaan sudah berjalan dan menghasilkan, tapi justru proses review dan retrospektifnya adalah inti penting menghasilkan pembelajaran bukan sekedar produk jadi, tapi keseimbangan antara bagaimana sebuah tim mengambil beragam hikmah / lesson learned dari setiap kegagalan-kegagalan kecil yang terjadi✔️

Dari catatan-catatan harian atas kebehasilannya pun terbaca sebagai pembelajaran yang bisa diulang diproses selanjutnya🔑

Lebih dalam sebenarnya, proses review dan retrospective ini membawa tim untuk senantiasa bersyukur atas langkah-langkah keberhasilan kecil yang terus tercipta, dan langkah-langkah pembenahan atas kesalahan-kesalahan yang tercipta sepanjang proses hingga tak terulang kemudian hari🤔

Salah satu hal kecil mengapa proses ini mengundang rasa syukur adalah dengan adanya penggunaan Kudos Wall, atau papan terimakasih yang digunakan sebagai ucapan penghargaan dan rasa syukur atas nikmat yang dirasakan sepanjang prosesnya. Setiap ritual daily menempelkan stickynotes ucapan terimakasih hingga akhirnya terlihat ternyata begitu banyak kenikmatan pembelajaran dan keberhasilan yang dirasakan🤩😄

“Dan (ingatlah), jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu; tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”

Semakin banyak kita bersyukur, semakin besar pula rasa keikhlasan kita dalam berkarya, makin dekat pula kita denganNya, dan tentu rasa optimis untuk hadir dengan karya-karta bermanfaat. insya Allah.

3 Pilar Kepemimpinan dalam Inovasi

Mengelola inovasi memang perlu karakter kepemimpinan unggul, bisa menempatkan dirinya pada situasi dan kondisi yang berbeda dengan kemampuan adaptibilitasnya.

Tantangan pemimpin tentunya adalah bagaimana Ia bisa membangun budaya inovasi yang kuat, punya visi jelas tentang arah inovasi organisasi & bagaimana inovasi tersebut akan menghasilkan nilai tambah, menjalin kemitraan dengan para inovator, mengelola risiko inovasi, memiliki proses baik untuk mengelola risiko inovasi, menyediakan sumber daya yang cukup & mengukur kinerja yang tepat untuk memastikan bahwa inovasi organisasi berjalan dengan baik.

Selain itu, memang sepanjang hayatnya berkomitmen menjadi pembelajar dimana hingga semakin matang Ia menemukan perpaduan yang tepat dari setidaknya tiga kualitas penting dirinya:

✔️Pola Pikir Terbuka:
Pemimpin organisasi yang inovatif perlu siap untuk mengesampingkan gagasan yang sudah terbentuk sebelumnya dari pemangku-pemangku kepentingan yang terlibat/karena struktur organisasi/perusahaan serta tugas-tugas yang ada.

Dengan demikian, ia akan memahami sudut pandang orang lain dengan memfasilitasi diskusi-diskusi terbuka & perdebatan positif mengarah pada kebaruan-kebaruan. Mendengarkan pendapat orang lain, Menerima kritik secara konstruktif, perlu terus terbuka untuk belajar hal baru & mempertimbangkan opsi yang berbeda, toleran terhadap perbedaan, berbicara secara jujur dan terbuka. Pemimpin harus berani mengungkapkan pandangannya sendiri, sambil tetap terbuka terhadap pandangan orang lain

✔️Kemampuan untuk Mengelola Paradoks:
Pemimpin perlu mampu mengenali keberadaan paradoks dan memahami bahwa ada beberapa situasi di mana tidak ada jawaban yang benar atau salah. Paradoks dapat muncul dalam situasi seperti kecepatan vs kualitas, fleksibilitas vs stabilitas, inovasi vs efisiensi, dll.

✔️Kualitas Pribadi yang Tepat:
Memimpin inovasi tentu membutuhkan tingkat kepercayaan diri dan kerendahan hati yang tinggi. Belum lagi menuntut wawasan, keterlibatan, keingintahuan, dan tekad kuat yang akan menjadi karakteristik penting, terlebih mereka akan berkembang dalam ambiguitas & ketidakpastian.

Belajar sepanjang hayat yaa🤝

The Ability to Innovate!

Setelah Willingness to Innovate, pertanyaan berikutnya adalah The Ability to Innovate! Mau banget berinovasi, tapi seberapa mampu? Punya pemimpin berkualitas & tim dengan rasa komunitas yang tepat memang diperlukan, tetapi ga cukup. Ada beberapa kemampuan khusus yang perlu dikembangkan, ditumbuhkan & dikawal untuk tumbuh. Ada 3 hal penting yang jadi pilar sebuah tim jadi bisa berinovasi, bukan sekedar mau berinovasi!

✔️Creative Abrasion:
Ini adalah kemampuan meramu beragam ide berbeda. Mampu memanfaatkan fakta bahwa solusi inovatif biasanya muncul ketika ide-ide yang muncul karena beragam bahkan bertentangan. Organisasi inovatif justru mampu menyatukan perspektif beragam & keahlian yang luas. menciptakan dialog yang menghasilkan kumpulan ide yang menawarkan berbagai pendekatan yang kemudian memungkinkannya menjadi hibrida yang lahir dari berbagai sudut pandang yang dirangkul & mengelola sejumlah paradoks yang tak punya “jawaban yang benar” hingga disesuaikann secara terus-menerus.

✔️Creative Agility:
Ketangkasan ini diperlukan untuk bisa mengembangkan & menguji pilihan-pilihan berbeda, belajar dari hasil & mau selalu mencoba lagi. Tim perlu menahan dari ketergesaan dalam menghilangkan ide-ide/opsi-opsi yang timbul. Ketangkasan kreatif ini mengandalkan refleksi, tapi basisnya menggunakan data untuk mengevaluasinya & mengungkap kemungkinan-kemungkinan baru.

✔️Creative Resolution:
Kemampuan tim untuk menyatukan semua kelompok pembelajaran – bahkan ide-ide yang pernah dianggap saling eksklusif sekalipun. Pada organisasi tradisional pengambilan keputusan sering diputuskan sebagai keharusan memilih antara “A” / “B”, padahal pada organisasi inovatif tidak bisa terjebak dengan pola pikir biner ini. Ia harus mampu melampaui pola pikir biner & mengintegrasikan aspek, sudut pandang, meramu & memetakan banyak solusi yang mungkin untuk menciptakan hasil yang unggul & berhasil dalam jangka pendek & panjang.

Jika dibaca memang mudah ya! tapi dalam pelaksanaannya memang kerap kali menimbulkan beberapa hal paradoks yang memungkinkan terjadinya kegagalan penguasaan keterampilan inovasi & atau proses inovasinya jadi berjalan lamban. Berikutnya, kita bahas ya!🚀🚀

Willingness To Innovate

Jika selama ini kita mendengar istilah Willingness To Pay, yakni seberapa besar pelanggan mau membayar atas produk kita, dalam proses inovasi ada istilah lain sebelum menciptakan produk yang inovatif, yakni “Willingness To Innovate”, menjadi menarik, karena dalam proses menciptakan inovasi belum tentu seluruh anggota jadi bagian yang ingin berinovasi & melahirkan kebaruan yang diterima masyakarat.

Willingness to innovate / kemauan untuk berinovasi mengacu pada kemampuan individu / organisasi untuk membuka diri terhadap perubahan & mencari cara baru untuk memecahkan masalah atau meningkatkan kinerja mereka. Kemauan yang melibatkan keinginan & tekad untuk menciptakan atau mengadopsi produk, layanan, atau proses baru yang dapat meningkatkan nilai bagi organisasi atau masyarakat & agar tetap relevan & berkompetisi di pasar yang terus berkembang & berubah.

Banyak literatur menunjukkan bahwa manajemen yang berhasil dari perjuangannya adaptasinya akan sangat bergantung pada kemampuan pemimpinnya untuk memupuk kemauan agar tetap berada pada jalur yang menantang & sering terasa sebagai ketidak-efisienan. Kemauan untuk berinovasi dapat ditopang oleh 3 pilar kebersamaan hingga dapat menciptakan rasa komunitas yang diperlukan, yakni;

1) 🎯 Shared Purpose:
Komunitas menjadi prioritas dari tujuan bersama yang melintasi fungsi dan geografisnya. Tujuan bersama ini melampaui sekadar menambah nilai / menghasilkan produk; organisasi inovatif sering melihat apa yang mereka lakukan adalah sebuah pengungkit untuk mempengaruhi perubahan yang lebih luas lagi.

2) ❤️ Shared Values:
Komunitas inovatif juga terikat bersama oleh nilai-nilai bersama yang mendorong bagaimana mereka mencapai tujuan bersamanya. Nilai-nilai itu biasanya mencakup ambisi yang berani, pendekatan kolaboratif dalam bekerja, keinginan untuk belajar & rasa tanggung jawab bersamac terhadap kelompoknya

3) ✔️Rules of Engagement: 
Proses inovasi biasanya sangat dinamis, tapi jangan menjadikannya chaotic. Bagaimana enggagement diantara tim dipandu oleh ethos yang sama & melakukan penyelarasan antar perbedaan perdebatan dengan sikap saling menghargai & menumbuhkan rasa saling percaya❤️

Ecosystem Design dalam Design Thinking

Bagaimana pemahaman ecosystem design dalam design thinking?

adalah konsep yang fokus pada pembuatan sistem / lingkungan berkelanjutan & dapat mendukung interaksi yang kompleks antara berbagai elemen dalam sebuah sistem.

Dalam konteks desain, ecosystem design digunakan untuk membangun lingkungan yang lebih baik untuk pengguna & produk, mempertimbangkan dampak yang mungkin terjadi dari penggunaan produk & layanan terhadap lingkungan & masyarakat sekitarnya.

Konsep ini juga mengarah pada mempertimbangkan dampak yang lebih luas pada seluruh ekosistem, seperti keseimbangan alam, sosial, dan ekonomi.

Pemahamantentang ecosystem membantu para desainer untuk mempertimbangkan dampak jangka panjang dari produk / layanan yang mereka rancang & menciptakan solusi yang lebih berkelanjutan, mengurangi dampak lingkungan yang tidak diinginkan & memperkuat interaksi antara manusia, teknologi & lingkungan.

Salah satu yang cukup intens membahas terkait ini adalah Michael Lewrick, salah satu bukunya dalam bukunya “The Design Thinking Playbook: Mindful Digital Transformation of Teams, Products, Services, Businesses & Ecosystems” mengemukakan bahwa business growth dapat dicapai melalui pendekatan design thinking yang berfokus pada pengembangan inovasi secara sistematis & berkelanjutan.

Business growth terjadi ketika suatu perusahaan mampu menciptakan nilai yang lebih besar bagi pelanggan & lingkungannya dengan cara yang lebih efektif & efisien dibandingkan dengan pesaingnya.

Untuk mencapai hal ini,berfokus pada 4 faktor utama;

✔️Value proposition: mampu menawarkan nilai tambah yang unik yang berbeda dari pesaingnya, dengan memahami kebutuhan & keinginan pelanggan.

✔️Business model: memiliki model bisnis yang berkelanjutan & menguntungkan secara finansial, dengan mempertimbangkan bagaimana menghasilkan pendapatan & mengelola biaya.

✔️Inovasi:terus berinovasi & mengembangkan produk, layanan & proses bisnis baru untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan pasar yang berubah

✔️Ekosistem: harus membangun ekosistem yang kuat dengan melibatkan beragam mitra bahkan bisa jadi pesaingnya.

Yok bareng2 bikin kuat ekosistem bersama yok!

Menjadi Organisasi Pembelajar

Biar organisasi kamu jadi organisasi pembelajar, salah satu kerangka yang jadi favorit kami adalah Johari Window yang digunakan untuk menggambarkan bagaimana persepsi diri dan persepsi orang lain dapat mempengaruhi hubungan interpersonal🥳

Konsep ini bermanfaat bagi organisasi pembelajar karena membantu individu dalam kelompok untuk memahami kondisinya & membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik🚀

Dengan memahami area- area terbuka (open), yang diketahui oleh diri sendiri & orang lain, serta area yang dirahasiakan (hidden) / tidak diketahui (unknown), individu dapat memperoleh wawasan yang lebih baik tentang diri mereka sendiri dan lingkungan mereka. Hal ini dapat membantu mereka untuk meningkatkan keterampilan interpersonal & memperbaiki hubungan kerjanya🤝

Bisa juga membantu organisasi dalam menciptakan lingkungan yang lebih terbuka, kolaboratif & efektif, serta membantu individu dalam kelompok untuk meningkatkan keterampilan interpersonalnya & mengembangkan diri secara profesional.

Gimana cara menerapkanya?🤔

✔️Self-assessment: Lakukan evaluasi diri secara objektif & jujur ​​tentang keterampilan & perilaku kita. Identifikasi area di mana kita merasa percaya diri & keahlian, serta area yang mungkin perlu ditingkatkan.

✔️Bicara dengan orang lain: Ajak teman, rekan kerja / atasan untuk memberikan umpan balik tentang perilaku, keahlian, & keterampilan kamu. Kita akan memperoleh persepsi orang lain tentang diri kita, termasuk apa yang mereka anggap sebagai kekuatan kita dan di mana Anda dapat berkembang.

✔️Menerima umpan balik dengan lapang dada & tanpa membenarkan atau membela diri. Dengarkan dengan seksama apa yang orang lain katakan tentang kita & coba untuk memahami sudut pandang mereka.

✔️Membuka diri: Bagikan informasi tentang diri kita dengan kelompok kerja yang akan membantu memperluas area terbuka (open) pada jendela Johari & mencipta lingkungan kerja yang lebih terbuka & saling percaya.

✔️Memperbaiki diri: Gunakan informasi dari proses Johari Window untuk meningkatkan diri. Fokus pada pengembangan keterampilan / perilaku yang perlu ditingkatkan & manfaatkan kekuatannaya untuk memperoleh hasil jadi lebih baik.🫡

Selamat berproses🤗

Pengambilan Keputusan secara Inklusif

Pastikan setiap orang terlibat yaaa! Organisasi pembelajar buat tim makin kreatif, gimana melibatkannya?

Pengambilan keputusan secara inklusif adalah proses pengambilan keputusan yang melibatkan partisipasi dari beragam perspektif dan kelompok yang berbeda dalam suatu organisasi atau masyarakat.

Tujuannya tentunya adalah untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil mencerminkan kebutuhan dan kepentingan semua anggota masyarakat atau organisasi.

Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk melakukan pengambilan keputusan secara inklusif🥳

✔️Identifikasi stakeholder yang terlibat dalam pengambilan keputusan: Stakeholder adalah pihak-pihak yang akan terpengaruh oleh keputusan yang diambil. Identifikasi dan undanglah mereka untuk berpartisipasi dalam proses pengambilan keputusan🥳

✔️Pilih metode yang sesuai: Pilih metode yang sesuai untuk memfasilitasi diskusi dan pengambilan keputusan yang inklusif, seperti focus group, workshop atau forum diskusi😁

✔️Buat ruang untuk partisipasi aktif: Buatlah ruang yang aman dan terbuka untuk semua stakeholder untuk berpartisipasi secara aktif dan memberikan masukan mereka🫡

✔️Berikan informasi yang lengkap: Berikan informasi yang lengkap dan transparan kepada semua stakeholder sehingga mereka dapat membuat keputusan yang didasarkan pada fakta dan data yang valid😎

✔️Beri waktu yang cukup: Berikan waktu yang cukup bagi stakeholder untuk mempertimbangkan opsi yang tersedia dan memberikan masukan mereka🧐

✔️Pertimbangkan semua opsi: Pertimbangkan semua opsi yang tersedia dengan cara yang objektif dan adil, tanpa memihak pada satu kelompok atau individu tertentu.

✔️Evaluasi keputusan: Setelah keputusan diambil, evaluasi hasilnya secara terbuka dan transparan dan berikan kesempatan bagi stakeholder untuk memberikan masukan dan umpan balik🤓

✔️Dengan mengikuti langkah-langkah ini, proses pengambilan keputusan secara inklusif dapat membantu organisasi atau masyarakat untuk mencapai keputusan yang lebih baik dan memperkuat hubungan antara anggota masyarakat atau organisasi☺️

Ayo gas belajar lagi🚀🚀

Business Thinking & Design Thinking

Business thinking dan design thinking adalah dua pendekatan yang berbeda dalam memecahkan masalah dan mengembangkan ide.

✔️Business thinking fokus pada pengembangan dan pertumbuhan bisnis dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti biaya, keuntungan, dan pasar.

✔️Sedangkan design thinking fokus pada pemahaman mendalam tentang pengguna dan menemukan solusi kreatif yang menyelesaikan masalah pengguna dengan cara yang efektif.

Bedanya antara business thinking dan design thinking adalah:

✔️Tujuan utama: Business thinking bertujuan untuk mencapai keuntungan dan pertumbuhan bisnis, sedangkan design thinking bertujuan untuk menciptakan solusi inovatif untuk masalah pengguna.

✔️Proses yang digunakan: Business thinking menggunakan metode analisis data dan strategi bisnis untuk mengembangkan dan mengoptimalkan bisnis, sedangkan design thinking menggunakan pendekatan empiris untuk mengembangkan solusi kreatif untuk masalah pengguna.

✔️Fokus pada pengguna : Design thinking memprioritaskan kebutuhan pengguna dan berusaha memahami perspektif mereka secara mendalam, sementara business thinking lebih berfokus pada kepentingan bisnis.

✔️Pembuatan keputusan : Business thinking mengutamakan pengambilan keputusan berdasarkan analisis data dan strategi bisnis, sementara design thinking lebih mengutamakan pengambilan keputusan yang didasarkan pada pemahaman mendalam tentang pengguna dan berfokus pada solusi kreatif dan inovatif.

✔️Orientasi waktu : Business thinking lebih berorientasi pada jangka pendek, sementara design thinking lebih berorientasi pada jangka panjang dan keberlanjutan solusi.

Pastikan keduanya berjalan beriringan, business thinking maupun design thinking dapat saling melengkapi dalam pengembangan bisnis dan pengembangan produk yang sukses.

Keduanya bisa digunakan bersama-sama untuk mencapai tujuan yang lebih baik dan menciptakan solusi yang lebih inovatif. Ayoo latih lagi skillnya! #tleecosociopreneur

Menjadi Tim yang Agile

Menjadi tim yang Agile sangat erat dengan konsistensi, sangat tidak erat dengan chaos. Tapi bagaimana semestinya menerapkan praktik Agile secara konsisten? Dimulai dari mana untuk membangun kebiasaannya?

1. Pahami dulu prinsip agilenya✔️
Dalam prosesnya memastikan semua anggota tim memahami praktik dan prinsip Agile, serta melakukan retrospeksi secara teratur untuk mengevaluasi konsistensi dan perbaikan yang dapat dilakukan memang sebuah tantangan tersendiri!

2. Gunakan tools dan prosesnya✔️
Untuk membantunya, maka dalam pendekatan ini banyak tools & proses yang perlu digunakan untuk membantu tim memahami dan mengikuti praktik Agile. Pilih alat yang sesuai untuk manajemen proyek dan cara kerja kolaborasi tim, serta memastikan bahwa proses yang digunakan konsisten melahirkan outcomes.

3. Komunikasi yang jelas dan teratur ✔️
Hal lain yang penting adalah bagaimana menjaga komunikasi secara teratur dan jelas sangat penting terkait kemajuan, masalah, dan perubahan, sehingga semua anggota tim dapat bekerja dengan cara yang konsisten dan efektif menuju goals yg disepakati.

4. Kerjasama dan Transparansi✔️
Hal fundamental lain adalah kerja sama dan transparansi, bekerja sama dengan cara yang konsisten dan berbagi informasi secara terbuka, sehingga semua anggota tim bisa memahami dan mengikuti prosesnya.

Selamat berproses jadi lebih agile!🚀

Apa Saja Kunci Agile Organization?

Biar ngga jadi chaos, coba deh kuatkan pilar-pilar ini dalam organisasi kamu!
Jangan lupa persisten mengembangkannya yaa. Jadi apa saja kunci Agile Organization?

1.Apa tujuan dari perubahan?
Inovasi & efisiensi. 
Tujuan organisasi yang adaptif adalah inovasi. Dalam proses bisnisnya dilakukan pula beragam tindakan efisiensi untuk memastikan keberlanjutan yang erat dengan kemampuan adaptasi dengan inovasi, melakukan hal-hal baru atau jadi lebih efisien dalam melakukan hal-hal yang sama dengan sumberdaya yang menipis🤣

2. Kunci keberhasilannya apa?
Communication & Knowledge
Era VUCA dengan ketidakpastiannya, menjadikan komunikasi jadi kunci.Interaksi dalam membangun realita yang baru. Pengetahuan dibangun melalui pengalaman pribadi & interaksi🤓

3. Energinya didapat dari mana? 
Entrepreneurship & Proactivity
Di era ketidakpastian, memang lebih beresiko jika tak melakukan apa-apa dari pada melangkah walau salah arah. Proaaktif, inisiatif & eskperimen yang akan menjaga pergerakan untuk terus beradaptasi. Jadi bagian penting untuk menghasilkan beragam proses kebaruan dalam menghasilkan terobosan, memastikan setiap pelaku dalam ekosistem untuk belajar proaktif😘

4.Magnet keberhasilanya apa?
Teamwork & Commitment
Apa yang membuat kita tetap betah dan passionate? Tim yang bahagia adalah terbuka atas eksplorasi. Tim dipastikan Ia mengikuti proses yang membawanya bahagia dalam bereksplorasi, pada setiap tahapnya diselaraskan hingga mencapai tujuan bisnis. Bersama-sama memastikan keterlibatan dan menjaga untuk tetap fokus pada prioritas utama🤩

5. Pendekatannya seperti apa: 
Distributed Leadership & Coordination
Pemimpin yang terbuka membuka jalan pada Kepemimpinan kolektif. Kepemimpinan terdistribusikan untuk menciptakan kondisi yang tepat untuk munculnya desentralisasi, ruang-ruang inisiatif, tim yang self-coordination & inisiatif yang spontan😎

Bareng-bareng jadi Agile Team yang berdampak🚀🚀🚀