
Konten Edisi Ramadan;
Setiap manusia mendambakan hidup yang penuh keberkahan: keluarga yang sakinah, anak yang saleh, rezeki yang menenangkan, dan umur yang bermanfaat. Itulah fitrah. Barokah berarti kebaikan yang banyak dan menetap, bukan kenikmatan sesaat yang cepat hilang. Ia seperti air yang tertampung dan memberi manfaat berkelanjutan. Dalam Islam, keberkahan mencakup dunia dan akhirat sekaligus: hidayah dan pahala, juga rezeki dan ketenangan. Namun semangat “ngalap berkah” bisa keliru jika tidak dibangun di atas tauhid yang benar.

Tabarruk adalah ibadah, bukan sekadar tradisi atau simbol. Karena itu, ia harus tunduk pada wahyu. Tidak semua tempat, benda, atau orang bisa dianggap membawa berkah tanpa dalil yang sahih. Caranya pun harus sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ, dan keyakinannya harus lurus: yang memberi berkah hanyalah Allah. Menetapkan sesuatu sebagai sebab tanpa dasar syariat termasuk syirik kecil; meyakini benda memberi manfaat secara mandiri adalah syirik besar. Kekeliruan ini sering lahir bukan dari niat buruk, tetapi dari kurangnya ilmu.

Islam membedakan jelas antara yang disyariatkan dan yang dilarang. Mengusap Hajar Aswad atau berdoa di Multazam ada tuntunannya. Namun mengusap tembok, membawa pulang tanah sebagai jimat, atau mencari berkah dari benda tanpa dalil bukan ajaran Nabi ﷺ. Keberkahan pada zat tubuh adalah kekhususan beliau dan tidak diwariskan kepada siapa pun. Keberkahan ulama terletak pada ilmu dan keteladanannya, bukan pada fisiknya. Pada akhirnya, mencari keberkahan bukan tentang mendekati simbol, tetapi mendekat kepada Allah, Sang Pemberi Berkah. “Wal barokatu minallah”, keberkahan itu datangnya dari Allah.

Disarikan dari Kajian Ramadhan bersama
Ustadz @hamdialbakry




No comment yet, add your voice below!