Scrolling Terus, Hati Numb Terus
Dzulhijjah besok, hati masih belum siap pulang.

Nonton lagi kajian Gurunda Ustadz @muhammadnuzuldzikri , untuk memastikan satu hal yang sering luput saya sadari: kita begitu sibuk menyambut Ramadan, tapi sering terlalu biasa saat memasuki 10 hari pertama Dzulhijjah. Padahal Rasulullah ﷺ mengatakan tidak ada hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah dibanding hari-hari ini. Bahkan ketika para sahabat bertanya, “Apakah lebih utama juga dibanding jihad fisabilillah?”, Rasulullah ﷺ tetap mengatakan iya, kecuali bagi mereka yang pergi berjihad lalu gugur dengan seluruh jiwa dan hartanya. Rasanya seperti pengingat bahwa ada momentum besar yang sering lewat begitu saja karena kita tidak benar-benar menyadari nilainya.

Bagian yang paling terasa dalam bagi saya adalah ketika beliau membahas hadis tentang dzikir. Rasulullah ﷺ mengibaratkan orang yang mengingat Allah dan yang tidak mengingat Allah seperti orang hidup dan orang mati. Kalimat itu sederhana, tapi menampar. Karena ternyata seseorang bisa terlihat hidup dari luar, punya pekerjaan, pencapaian, relasi, bahkan pengaruh, namun batinnya kosong dan kehilangan arah. Kita terlalu sering mengukur kehidupan dari kesibukan dan pencapaian, padahal hati bisa perlahan mati ketika terlalu lama jauh dari Allah.

Kajian ini juga membuat saya melihat kurban dari sudut yang berbeda. Kurban bukan sekadar ritual tahunan atau soal membeli hewan terbaik. Nabi Ibrahim AS mampu menjalankan perintah Allah karena beliau berhasil meruntuhkan rasa memiliki dalam dirinya. Maka ketika kita mengucapkan “Allahu Akbar”, seharusnya itu bukan hanya lafaz, tetapi pengakuan bahwa Allah lebih besar daripada ego, ambisi, gengsi, rasa takut, dan kepentingan pribadi kita sendiri. Karena sering kali yang paling sulit disembelih bukan hewan kurbannya, tetapi kesombongan dalam diri kita.

Mungkin itu mengapa 10 hari pertama Dzulhijjah begitu istimewa. Ia bukan hanya tentang menambah amal, tetapi tentang menghidupkan kembali hati yang mulai lalai. Sebab pada akhirnya, nikmat terbesar bukan hanya tentang apa yang kita miliki di dunia, tetapi ketika Allah masih memberi kita kesempatan untuk kembali mendekat kepada-Nya.

Recommended Posts

No comment yet, add your voice below!


Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *