The Three Horizons Of Growth

Guys! Ati2 terjebak teknis, nanti lupa berpikir strategis”
Kalimat yang kerap terucap, mengingatkan tim untuk menyeimbangkannya adalah sebuah peer, meski ada seperangkat tools untuk menjaganya, tapi masih sering tergoda juga untuk meladeni monentum tapi membutakan pada goals yang sesungguhnya.

Beberapa saat lalu juga pernah menuliskan tentang organisasi bertangan dua, atau yang biasa disebut sebagai Organisasi Ambidextery.

Organisasi Ambidextery adalah organisasi bertangan dua kala Ia perlu menghadapi tantangan untuk memberikan inovasi yang cepat namun disaat yang sama Ia juga perlu memelihara perbaikannya yang berkelanjutan dengan menata birokrasi organisasinya.

Nah, kali ini kita bahas bukan yang bertangan dua, tapi organisasi dengan tiga Horison.

McKinsey and IFF* menerbitkan model horison pertumbuhan, memang makin memantang menyeimbangkan inovasi. Hingga bisa jadi sebuah organisasi yang inovatif memang perlu banyak belajar adaptif, aplagi perubahannya dilakukan diatas perubahan.

Yuk kita kenalan sama “The Three Horizons of Growth’ (Horizon model):

Horizon 1 = ‘Keeping the lights on‘ ─ driven by optimization and sustaining innovation (change).
Organisasi dijalankan dengan mengoptimalkan serta menjaga kebetlanjutan inovasi.

Horizon 2 = ‘Building future ventures‘ ─ driven by disruptive innovation, operating in known markets.
Membangun masa depan, yang didorong oleh inovasi disruptif, menjalankannya di pasar yang sudah diketahui.

Horizon 3 = ‘Imagining the future‘ ─ driven by disruptive innovation, entering uncharted waters.
Horison ini adalah horison yang sangat penting, membayangkqn masa depan, dipandu oleh inovasi disruptif, mengeksplorasi beragam kebaruan yang tak pernah ditemukan sebelumnya.

Selamat bereksplorasi!

Era AI; Apa Yang Perlu Dilatih Untuk Bergeser Mindsetnya?

Menghindari ketergantungan pada AI dalam Design Thinking sebagai mindset dapat dimengerti karena esensinya yang sangat manusia-sentris. Design Thinking punya fokus pada empati, kreativitas, dan kolaborasi untuk menciptakan solusi inovatif yang relevan dan bermakna. Kenapa pada tahap tertentu lebih baik tidak terlalu bergantung pada AI? ✨

1. Empati Sebagai Fondasi✨
Design Thinking dimulai dengan empati, yaitu memahami emosi, kebutuhan, dan masalah nyata pengguna melalui interaksi langsung, observasi, dan percakapan mendalam. AI mungkin dapat menganalisis data, tetapi tidak dapat menggantikan koneksi emosional atau intuisi yang diperoleh dari interaksi manusia langsung.

2. Kreativitas dan Ideasi Tanpa Batas✨
AI bekerja berdasarkan data historis, sedangkan Design Thinking mendorong solusi inovatif yang sering kali tidak terduga. Ketergantungan pada AI berisiko membatasi kreativitas dengan berfokus pada pola yang sudah ada.

3. Iterasi dan Pembelajaran Reflektif✨
Iterasi melalui prototipe adalah bagian penting dari Design Thinking. Proses ini melibatkan keberanian untuk gagal dan belajar dari kesalahan. AI mungkin memberikan jawaban cepat, tetapi tidak menyediakan ruang untuk eksplorasi dan refleksi yang memperkaya wawasan.

4. Kolaborasi dan Pemahaman Kolektif✨
Proses kolaboratif dalam Design Thinking melibatkan diskusi dan pemikiran bersama yang dinamis.. AI tidak dapat menggantikan dinamika manusia yang berbasis empati dan perspektif beragam.

5. Menghindari Bias Kognitif dalam AI✨
AI sering kali membawa bias tersembunyi yang berasal dari data atau algoritma. Manusia memiliki kemampuan unik untuk menilai konteks dan memastikan solusi yang inklusif.

6. Mindset Lebih Penting daripada Alat✨
Design Thinking adalah pola pikir kreatif dan inklusif yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi. Terlalu bergantung pada AI dapat mengaburkan nilai inti ini.✨

Jadi, AI bisa banget jadi alat pendukung untuk analisis data dan efisiensi, tetapi inovasi sejati tetap berakar pada empati, kreativitas, dan kolaborasi manusia. Pada akhirnya, inovasi terbaik adalah yang berdampak besar bagi kemanusiaan.✨