Konsistensi vs Loyalitas

Konsistensi vs. Loyalitas:

Seringkali loyalitas kepada individu menjadi buta ketika sang individu idola berubah haluan, dan sang pengikut kerap jadi bingung, harus loyal pada siapa, individunya atau tujuannya?

Mengapa konsistensi pada tujuan jadi lebih utama daripada loyalitas pada individu?

✅ Pastikan konsisten & fokus pada tujuan jangka panjang;
Konsistensi menjamin tindakan yang selaras dengan hasil yang diinginkan dalam jangka panjang. Ini membantu mempertahankan arah dan fokus, bahkan saat kondisi atau orang-orang berubah✨

✅ Adaptabilitas dan Fleksibilitas;
Loyalitas kepada individu dapat menciptakan ketergantungan yang berlebihan padanya, sementara konsistensi terhadap tujuan memungkinkan adaptasi dengan situasi yang berubah🙌

✅ Penghindaran Bias dan Subjektivitas;
Loyalitas kepada individu bisa mengaburkan penilaian dengan bias dan subjektivitas, sedangkan Konsistensi terhadap tujuan membawa pendekatan yang lebih objektif🎯

✅ Mencegah Konflik Kepentingan;
Loyalitas kepada individu bisa menimbulkan konflik kepentingan, sementara Konsistensi dengan tujuan memastikan keputusan dan tindakan yang selaras dengan visi lebih besar🏅

✅ Membangun Kepercayaan dan Kredibilitas;
Konsistensi dalam mengejar tujuan membangun kepercayaan dan kredibilitas, baik di dalam maupun di luar organisasi, mencerminkan komitmen terhadap nilai dan sasaran organisasinya bukan individunya💫

✅ Pemberdayaan dan Pertumbuhan;
Konsistensi memungkinkan organisasi untuk tumbuh dan beradaptasi berdasarkan pengalaman, mendorong inovasi dan perbaikan berkelanjutan🚀

Meskipun loyalitas penting dalam membangun hubungan yang kuat dan mendukung lingkungan kerja yang positif, konsistensi dalam mengejar tujuan dianggap lebih kritis untuk kesuksesan jangka panjang. Ini karena konsistensi memberikan arah, kestabilan, dan kerangka kerja yang memungkinkan adaptasi, pertumbuhan, dan inovasi, sambil meminimalkan bias dan konflik kepentingan.

Loyalitas kepada individu, meskipun berharga, harus dipertimbangkan dengan hati-hati untuk memastikan bahwa tidak mengganggu pencapaian tujuan yang lebih luas.

Kamu berada dimana?🙌🙌

The Magic of Thinking Big

Dari bukunya David J Schwartz, The Magic of Thinking Big. Dikemukakan satu istilah yang mungkin jarang terdengar tapi sering dilakukan, Excusitis🧐

Excusitis adalah kebiasaan membuat alasan yang sering menghambat kita dari mencapai keberhasilan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita mungkin sering mendengar atau bahkan mengucapkan kalimat seperti “Saya ngga cukup pintar” atau “Saya terlalu tua.” Ini adalah contoh excusitis, di mana kita mencari alasan untuk ngga mengejar tujuan kita.

Untuk mengatasi excusitis, kita perlu sadar bahwa alasan tersebut sebenarnya adalah hambatan mental kita sendiri. Cara mengubahnya adalah dengan mengganti pemikiran negatif dengan yang positif. Contohnya, daripada berpikir “Saya ngga mampu,” kita bisa berpikir “Saya bisa belajar dan berkembang.”😔

Selain itu, membangun kepercayaan diri sangat penting. Kita bisa mulai dengan menetapkan tujuan yang realistis dan merayakan setiap keberhasilan, meskipun kecil. Ini akan membantu kita percaya pada kemampuan diri sendiri. Tapi dilakukan dengan konsisten yaa!

Penting juga untuk bertindak. Ngga cukup hanya dengan berpikir positif, kita juga perlu mengambil langkah nyata. Tindakan, bahkan yang kecil sekalipun, dapat membantu kita mengatasi kebiasaan mencari alasan🤯

Salah satu pelajaran utama adalah fokus pada solusi “Future Focused”, bukan masalah “Problem Focused”Dengan selalu mencari cara untuk mengatasi hambatan, kita menjadi lebih proaktif dan ngga terjebak dalam membuat alasan🤓

Dari semua ini, kita belajar bahwa untuk mencapai keberhasilan, kita perlu mengubah cara berpikir, membangun kepercayaan diri, bertindak, dan selalu mencari solusi. Mengatasi excusitis tidak hanya membantu kita mencapai tujuan, tapi juga membawa pertumbuhan pribadi dan profesionalnya🚀

Complicated VS Complex

Memahami dan menerapkan profesionalisme, etika bisnis, serta kemampuan memilah masalah adalah keterampilan kunci dalam menghadapi situasi yang kompleks tanpa menjadikannya complicated. Hal ini jadi penting karena dalam kehidupan profesional, seringkali kita dihadapkan pada situasi di mana berbagai aspek kehidupan saling bertemu dan berpotensi menimbulkan konflik.

Sebagai contoh, pertimbangkan tiga aspek kehidupan berikut: urusan pribadi dengan keluarga, urusan dalam perusahaan, dan hubungan dengan mitra bisnis. Meskipun ketiga aspek ini terkait dengan satu individu, penting untuk memahami dan menjaga agar masing-masing urusan ini ditangani dalam koridor dan batasannya sendiri. Dengan demikian, masalah dalam satu area tidak merembet dan mempengaruhi area lain.

Profesionalisme di sini berarti kemampuan untuk memisahkan peran dan tanggung jawab di setiap aspek. Ini membutuhkan pemahaman yang jelas tentang etika bisnis dan batasan-batasan yang ada dalam interaksi profesional. Kemampuan untuk memilah dan mengelola masalah dalam setiap aspek ini tidak hanya mengurangi potensi konflik tetapi juga memungkinkan penyelesaian masalah secara lebih efektif.

Tanpa keterampilan ini, individu dapat terjebak dalam situasi di mana masalah dari satu aspek kehidupan mulai mempengaruhi yang lain, menyebabkan konflik yang lebih luas dan kompleksitas yang meningkat. Misalnya, masalah pribadi yang mempengaruhi kinerja di tempat kerja, atau sebaliknya, tekanan kerja yang berdampak pada kehidupan pribadi dan hubungan dengan mitra bisnis. Hal ini dapat menimbulkan situasi chaotic yang tidak hanya merugikan individu tersebut, tetapi juga dapat berdampak negatif pada lingkungan sekitar, termasuk rekan kerja dan keluarga.

Oleh karena itu, kemampuan untuk memilah dan mengelola berbagai masalah dalam koridor yang sesuai adalah keterampilan profesional yang sangat penting. Ini membantu dalam menjaga keseimbangan dan menghindari pemburukan situasi yang dapat mengakibatkan kerugian lebih besar.

Kelola yang kompleks,
Jangan biarkan jadi complicated🔥

Neuro-Linguistic Programming (NLP)

Memanfaatkan momentum awal tahun, kita bisa memetakan ulang rancangan hidup dengan pendekatan Neuro-Linguistic Programming (NLP). Ini melibatkan tiga aspek: Neuro (proses pengalaman melalui indera), Linguistic (penggunaan bahasa untuk pemahaman dan komunikasi), dan Programming (pola perilaku dan strategi)🥳

NLP membantu menyelaraskan ketiga elemen ini untuk meningkatkan kinerja pribadi, mengubah perilaku, dan mencapai tujuan. Berikut adalah tahapan “Well-formed outcome” dengan basis NLP hasil belajar dari Coach @fik_d_rahman 🙌🙌

1. Set the Goals!
Validasi tujuan. Tentukan apa yang ingin dicapai, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.

2. Blueprint!
Buat rencana atau ‘blueprint’ hidup yang menunjukkan jalan mencapai tujuan. Ini membantu dalam pengambilan keputusan dan tetap di jalur yang benar.

3. Connected!
Jaga hubungan baik dengan orang lain. Ini memberikan dukungan, ide, dan kekuatan, membantu pertumbuhan dan kemajuan.

4. Train the Minds!
Latih pikiran untuk selalu berpikir positif dan bahagia, seperti memilih makanan yang sehat untuk tubuh.

5. Access the Resources!
Fokus pada aspek positif melalui afirmasi, visualisasi, dan kesadaran akan rasa syukur. Kelola emosi negatif dan hindari pengaruh buruk untuk meningkatkan kesehatan mental dan pendekatan hidup yang optimis. Ingat, ini bukan hanya untuk kebahagiaan pribadi, tapi juga untuk memberi dampak baik bagi orang lain dan dunia sekitar✨

Akhlak dan Adab

Dalam dunia pendidikan transformatif, ‘akhlak’ dan ‘adab’ bukan sekadar pelajaran tambahan, melainkan fondasi utama dalam membentuk generasi masa depan.

✅ Adab; Diterjemahkan sebagai “manners”. Ini merujuk pada perilaku sopan, etiket, dan tata krama dalam interaksi sosial.

✅ Akhlak, Lebih sering diterjemahkan sebagai “morals” atau “character”. Ini mengacu pada nilai-nilai batin, etika, dan moralitas individu.

Pendidikan transformatif menekankan pada pembentukan karakter, di mana akhlak adalah inti dari proses tersebut. Ia bukan hanya tentang mengajarkan kebenaran, keadilan, atau empati, tapi juga tentang menumbuhkan nilai-nilai ini dalam jiwa para peserta didik🙌

Sementara itu, adab menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai tersebut dengan dunia nyata. Melalui praktik adab, para pelajar belajar bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai akhlak dalam interaksi sehari-hari, dari cara berkomunikasi hingga menghargai perbedaan✨

Pendidikan transformatif dengan fokus pada akhlak dan adab membuka jalan bagi pembelajaran yang holistik. Ini bukan hanya tentang pencapaian akademis, tapi juga tentang membentuk individu yang siap menghadapi tantangan global dengan hati dan pikiran yang terbuka😎

Dengan menekankan pada kedua aspek ini, kita menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kaya secara emosional dan sosial, mampu berkontribusi positif dalam masyarakat🤩

Pendidikan jenis ini mengubah kelas menjadi lebih dari sekadar tempat belajar; ia menjadi ruang di mana nilai-nilai kehidupan ditanamkan, di mana akhlak dan adab menjadi nafas dalam setiap pembelajaran, membimbing pelajar untuk tumbuh menjadi pemimpin masa depan yang bertanggung jawab, beretika, dan penuh empati💙

#DesignThinking
#designthinkingforeducators

Behaviour Accountability

Behaviour Accountability adalah konsep kunci dalam membangun tim yang tangkas dan inovatif. Model ini digambarkan sebagai tangga yang mencerminkan perjalanan dari “unconciousness” atau ketidaksadaran yang beranjak hingga bisa berdaya secara penuh penuh.🙌

Di dasar tangga, kita menemukan perilaku yang menempatkan dirinya sebagai “korban” 🥹 di mana individu mungkin tidak sadar atau tidak peduli, sering menyalahkan orang lain, membuat alasan, atau mengatakan “saya tak bisa”. Ini adalah zona stagnasi, di mana pertumbuhan pribadi dan tim terhambat oleh sikap defensif dan penolakan untuk berubah🧐

Namun, saat kita naik tangganya, kita bisa melihat titik perubahan — “Mengakui Realitas”. Di sinilah kesadaran diri & penerimaan situasi menjadi kunci. 😎 Anggota tim yang menyadari keadaannya akan lebih cenderung bergerak menuju perilaku yang bertanggung jawab, seperti “Menunggu & Berharap” menjadi “Merangkul tantangannya!” mereka menerima tantangan dengan antusias & punya komitmen untuk menemukan solusi🤩

Puncak tangga adalah perilaku akuntabel, ditandai oleh warna hijau hingga biru, menggambarkan langkah-langkah seperti “Membuatnya hingga terjadi” dan “Temukan Solusi”. 🥳 Di sini, individu tidak hanya mengakui kendali atas tindakan mereka sendiri tetapi juga secara proaktif menciptakan perubahan, mendorong inovasi, dan berkontribusi pada perkembangan tim🤩🤩

Mereka tidak lagi melihat hambatan sebagai penghalang, melainkan sebagai kesempatan untuk belajar dan berkembang😇

Membangun tim yang tangkas dan inovatif memerlukan perubahan mental dari sikap korban ke sikap akuntabel. Dengan memelihara lingkungan di mana setiap anggota merasa diberdayakan untuk mengambil tanggung jawab atas tindakannya, tim tidak hanya menjadi lebih gesit dalam menanggapi perubahan tetapi juga menjadi lebih kreatif dalam menghadapi tantangan.✨✨

Behaviour Accountability adalah perjalanan yang terus menerus menuju pertumbuhan pribadi dan profesional, dan fondasi dari tim yang dinamis dan inovatif, selamat berproses!🚀

High Leadership Model

Dalam keseharian kita banyak dipertemukan dengan sebuah kesuksesan yang sering kali diukur melalui pencapaian akademik atau pencapaian karier yang terus menanjak, vertikal ke atas🚀

Katakanlah Faris, seorang anak muda 23 tahun, memberikan sudut pandang berbeda mengenai apa definisi kesuksesan sesungguhnya, menjadi keren itu definisinya apa dari POV lain?🔭

Baginya, sukses bukan sekadar mengejar predikat dan mencapai posisi yang tinggi, melainkan juga tentang sejauh mana kita dapat meluaskan manfaat dari pencapaian kita dan seberapa dalam kita dapat memahami serta memberi makna pada setiap langkah yang kita ambil dalam perjalanannya.

Misalnya, seorang guru yang mungkin tidak pernah dikenal secara luas, namun berhasil meninggalkan dampak yang mendalam di hati para siswanya, menciptakan generasi yang tidak hanya terdidik, tetapi juga peduli dan berdaya. Atau seorang mahasiswa yang terus menerus berjuang, tidak hanya demi mendapatkan nilai bagus, tetapi juga demi menyerap pengetahuan yang nantinya dapat dibagikan dan dimanfaatkan untuk komunitasnya.

Dalam konteks ini, kesuksesan tidak selalu terukur dari apa yang terlihat di permukaan, melainkan juga dari dampak yang dihasilkan dan warisan yang ditinggalkan. Kita semua perlu menghargai dan mengejar kesuksesan yang tidak hanya menonjol ke atas, melainkan juga meluas ke samping dan memiliki kedalaman makn

Kesuksesan yang sejati terletak pada kemampuan kita untuk berbagi, menginspirasi, dan meninggalkan jejak yang positif bagi orang lain dan lingkungan sekitar kita. Karena di situlah esensi dari pendidikan sejati: memberikan dan mengambil makna dalam setiap interaksi dan transmisi pengetahuannya

Tidak melulu vertikal meninggi,
Bisa juga horisontal meluas manfaatnya,
Atau semakin dalam memaknainya, jadi akar kuat sebuah ekosistem tumbuh. Bagi yang memilih horisontal dan atau yang mendalam, kerennya kamu mungkin tak terlihat seperti menara, tapi setiap manfaat yang kalian tanam pada individunya tak lekang oleh jaman, akan mengalir dan menular lebih luas dan dalam.

Selamat meluaskan dampak!

Working from Anywhere

Konsep “Working from Anywhere” adalah hasil dari perubahan mendasar dalam paradigma kerja yang semakin berkembang. Ini erat dengan pergeseran dari orientasi output ke outcomes & kenapa pekerjaan yang cuma fokus pada output bisa jadi tidak menguntungkan bagi perusahaan & membahayakan.

Dalam paradigma lama berorientasi output, pekerjaan sering hanya cuma diukur dari sejauh mana seorang karyawan menyelesaikan tugas yang diberikan. Wal hasil, fokusnya hanya pada produktivitas individual & tidak mempertimbangkan dampak yang lebih besar yang bisa dicapai secara tim secara keseluruhan. Ini seringkali mengarahkan pada perilaku “silo,” dimana tiap individu bekerja sendiri-sendiri tanpa kolaborasi.

Oh ya ini sering kali justru terjadi pada usaha yang mulai membesar, yang tadinya sangat fleksibel, kemudian malah jadi corporate style! Hati-hati!

Konsep “WFA” justru membawa keuntungan karena pekerja bisa belanja ide dari luar & membawa hasilnya ke tempatnya Ia bekerja. Ini bukan cuma tentang seberapa banyak tugas yang diselesaikan, tetapi tentang sejauh mana pekerjaan yang dilakukan mengarah pada pencapaian tujuan bisnis yang lebih besar.

Pergeseran ini menguntungkan karena;

✅ Kolaborasi Lebih Baik:
Dalam lingkungan berorientasi hasil, kolaborasi menjadi kunci. Tim yang bekerja dari mana saja dapat berkolaborasi lebih efektif, menghasilkan solusi yang lebih kreatif & terobosan yang mendorong pertumbuhan perusahaan.

✅ Dampak Lebih Besar:
Orientasi pada hasil memungkinkan perusahaan untuk fokus pada tujuan strategis jangka panjang. Ini membantu mencipta dampak yang lebih besar daripada sekadar mengejar output harian.

✅ Budaya Kerja Lebih Terbuka:
Ketika hasil lebih penting daripada output individu, budaya kerja yang lebih terbuka & kolaboratif bisa berkembang. Ini membantu mengatasi masalah “silo” yang sering muncul.

✅ Tim yang Bertanggung Jawab:
Tim jadi cenderung lebih bertanggung jawab karena mereka harus mengukur keberhasilan mereka berdasarkan dampak yang dihasilkannya.

Jadi, konsep “WFA” ga cuma tentang tempat kerja yang lebih fleksibel, tetapi juga tentang mengubah cara kita memandang pekerjaan.

Selamat berproses!

The Long Road to Trush

Membangun kepercayaan bisa diibaratkan seperti merintis jalan panjang menuju puncak gunung: penuh tantangan namun penuh pesona bila kita menilik prosesnya. Pada awalnya, The Long Road to Trust dimulai dari setiap individu😙

Dari satu pikiran (individual mind) yang berawal dari rasa ingin tahu dan bersedia belajar, perlahan membentuk sebuah pengetahuan individu (individual knowledge).

Di sini, kepercayaan pada diri sendiri dan keyakinan terhadap apa yang kita ketahui mulai terbentuk.

Namun, di manakah kita bisa menciptakan dampak yang lebih besar? Jawabannya: ketika pengetahuan dan pikiran ini terkumpul dan berkolaborasi, menciptakan apa yang kita sebut sebagai pikiran kolektif (collective mind) dan pengetahuan kolektif (collective knowledge).

Perjalanan dari individual ke kolektif bukan sebuah proses instan loh! Ini adalah serangkaian interaksi, dialog, dan kolaborasi yang terjalin secara konsisten🥳

Trust dalam konteks ini berperan sebagai ‘jembatan’ yang menghubungkan berbagai pemikiran dan kompetensi bersama-sama dalam sebuah wadah yang harmonis😎

Saat Trust terbangun, ruang untuk berbagi pengetahuan terbuka lebar. Individu merasa aman untuk berbagi ide, mencoba gagasan baru, dan tak takut gagal. Semua ini karena mereka tahu bahwa di balik mereka, ada tim yang siap mendukung dan memahami🥳

Trust ini, yang terbangun dalam perjalanan, memungkinkan suatu organisasi untuk tumbuh dan berkembang bersama-sama, membentuk fondasi yang kuat dalam menciptakan solusi dan inovasi yang berdampak✅

Ingatlah, tiap langkah dalam perjalanan ini penting. Perjalanan dari individual ke kolektif, dari pikiran dan pengetahuan individu menuju pikiran dan pengetahuan kolektif, adalah bagaimana kita bersama-sama merintis jalan panjang menuju kepercayaan🤩

Di sinilah kita bersama membangun, belajar, beradaptasi, dan menciptakan masa depan yang punya meaning dan terjaminberkelanjutannya bagi kita semua🚀

Parkinson’s Law

Pernah dengar Hukum Parkinson ga? Bukan soal ilmu fisika, tapi sebuah prinsip tentang waktu dan pekerjaan yang cukup menarik.

Coba simak cerita sederhana ini: ada seorang anak kecil bernama Budi. Suatu hari, gurunya memberikan pekerjaan rumah dengan batas waktu satu minggu untuk menyelesaikannya.

Dengan waktu yang cukup lama, Budi memilih untuk bermain, menonton TV, dan melakukan berbagai kegiatan lain, seraya melupakan tugasnya. Sampai di hari terakhir, dia panik dan berusaha menyelesaikan semua pekerjaannya, dan tentu saja hasilnya tidaklah maksimal dan Budi merasa sangat stres😫.

Nah, Hukum Parkinson berbunyi: “Pekerjaan akan membesar sesuai dengan waktu yang tersedia untuk menyelesaikannya.” Meskipun Budi punya banyak waktu, dia tetap menghabiskannya dan hasil pekerjaannya menjadi tidak optimal😖

Bagaimana jika konsep ini kita terapkan dalam sebuah tim atau organisasi? Misalkan, ada proyek A yang harus selesai dalam satu bulan, jika kita ngga bijak dalam mengelola waktu, bisa-bisa kita akan seperti Budi, panik di waktu-waktu akhir dan menghasilkan pekerjaan yang kurang memuaskan.

Lantas, bagaimana cara agar kita dan tim kita tidak seperti Budi? Beberapa langkah bisa diambil!

Pertama, buatlah rencana yang jelas, seperti bagian X dari proyek A harus selesai dalam minggu ini. Kedua, fokuslah dan hindari gangguan. Ketiga, beri waktu untuk istirahat agar tak lelah. Keempat, jaga komunikasi dalam tim agar semua orang mengerti perannya dan progress pekerjaan.

Memang, menerapkan semua ini ngga gampang dan membutuhkan kedisiplinan serta komitmen dari semua anggota tim. Tapi, dengan praktik dan kesadaran yang tinggi, kita bisa banget menciptakan hasil kerja yang berkualitas tanpa harus merasa terburu-buru dan stres!🤯🤯